Indonesia mempunyai beragam kuliner istimewa yang patut untuk dicicipi satu per satu. Dari Sabang sampai Merauke, sepertinya semua daerah Indonesia memiliki ragam kuliner unik dan khas.
Salah satu contoh makanan khas yang begitu menyita perhatian adalah Pagit-pagit. Makanan ini merupakan kuliner khas suku Batak karo, di Sumatra Utara.
Pagit-pagit ini dinilai sebagai kuliner tak lazim karena bahan-bahannya terbuat dari rumput yang telah dikunyah dan masuk ke dalam usus sapi/ lembu/ kerbau.
Banyak orang berpikir bahwa makanan ini merupakan kotoran sapi yang kemudian diolah menjadi kaldu. Padahal warna cokelat di antara rumput pada lambung sapi itu merupakan hasil uraian selulosa menjadi karbohidrat-glukosa, dengan nutrisi tinggi. Sehingga bisa dikatakan belum menjadi kotoran.
Sebelum sapi disembelih, terlebih dahulu diberikan makan rumput yang segar. Nantinya, rumput ini tidak akan langsung diolah. Melainkan dimasukkan terlebih dahulu ke lumbung penyimpanan, dihaluskan kembali, barulah dimasukkan ke bagian pencernaan supaya diolah secara maksimal.
Berdasarkan Wikipedia, proses pembuatan pagit-pagit ini tidaklah mudah dan tidak dapat dilakukan secara sembarang, karena jika sampai salah dalam mengolah pagit-pagit nantinya akan berbau amis. Ada trik khusus yang dilakukan untuk mengambil rumput di dalam perut sapi. Agar mengurangi bau dan rasa pahitnya, pagit-pagit dimasak dengan bumbu lainnya, seperti serai, jahe, asam yang cukup banyak, rimbang dan daun-daunan.
Pagit-pagit tidak dapat dimakan kapan saja. Biasanya makanan ini dihidangkan pada acara-acara tertentu seperti Merdang Merdem (syukuran panen raya) atau pesta kerja tahun, memasuki rumah baru dan memberangkatkan anak merantau. Syukuran pesta tahun dilangsungkan setelah panen selesai.
Soal rasa, pagit-pagit memiliki cita rasa gurih sedikit pahit. Sedangkan aromanya sangat harum menggugah selera. Meskipun aneh dan menjijikkan, namun kuliner ini masih terjaga kelestariannya karena kandungan khasiat yang dimilikinya. (*)
