Tobaria – Di Desa Si Tanggang Bau, Kecamatan Pangururan, tanaman eceng gondok yang selama ini dianggap gulma di Danau Toba kini diolah menjadi berbagai kerajinan tangan bernilai ekonomi oleh Tabi Tanenggolan.
Di tangan kreatifnya, eceng gondok yang biasanya memenuhi permukaan danau disulap menjadi produk kerajinan yang unik dan ramah lingkungan. Proses pembuatannya dimulai dari pengambilan tanaman, kemudian dikeringkan, dipres, hingga dianyam menjadi berbagai bentuk produk.
Beragam hasil kerajinan berhasil dibuat, mulai dari sandal hotel, tas, keranjang, topi, tempat tisu, hingga sampul buku. Setiap produk memiliki teknik anyaman yang berbeda sesuai desain dan fungsi yang diinginkan.
Harga produk yang ditawarkan juga cukup beragam dan terjangkau. Sandal hotel dijual mulai sekitar Rp6.000 per pasang, topi anyaman sekitar Rp50.000, sementara keranjang eceng gondok dapat mencapai Rp100.000 tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya.
Selain memiliki nilai ekonomi, pemanfaatan eceng gondok juga membantu mengurangi pertumbuhan gulma di kawasan Danau Toba yang selama ini sering mengganggu keindahan dan aktivitas masyarakat di sekitar danau.
Selama ini eceng gondok dianggap sebagai gulma yang mengganggu keindahan dan ekosistem Danau Toba. Namun di tangan kreatif masyarakat lokal, tanaman liar tersebut justru berubah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi dan membuka peluang usaha baru.
Melalui kreativitas dan ketekunan, kerajinan eceng gondok kini menjadi salah satu contoh bagaimana limbah alam dapat diubah menjadi produk bernilai jual sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat lokal.
Berbagai produk kerajinan tersebut dipasarkan melalui akun Instagram @lettes_ecenggondok.(*)
