Desa Wisata Ecovillage Silimalombu berada di Kecamatan Onan Runggu, dan berada persis di tepian Danau Toba dan menawarkan aktivitas berwisata yang unik. Berwisata di tempat ini mengusung konsep ekowisata yaitu kegiatan wisata yang bertanggung jawab terhadap alam, memberdayakan masyarakat, dan meningkatkan kesadaran lingkungan.

Menuju ke tempat ini, ada 2 akses perjalanan bisa via darat maupun danau. Jika ingin via darat, melalui jalur Tele ke Pangururan ke Tomok lalu ke Silimalombu. Bisa naik kendaraan roda 2 maupun kendaraan roda 4. Sedangkan via danau, naik kapal khusus penyebrangan Ajibata – Silimalombu dari Dermaga Ajibata dengan jadwal tertentu.

Ecovillace Silimalombu berdiri sejak 10 tahun lalu, pengunjung yang datang ke tempat ini 99 % adalah wisatawan mancanegara. Di tempat ini tersedia fasilitas homestay, toilet, sauna dan lain sebagainya. Pengunjung disarankan untuk memanfaatkan Danau Toba untuk mandi, tujuannya selain menikmati indahnya Danau Toba juga menekankan pentingnya menghemat air.

Di tempat ini para pengunjung bisa melakukan berbagai aktivitas seperti menanam padi, memetik mangga, memungut kemiri, menangkap ikan dan juga mengolah berbagai hasil pertanian lainnya. Yang paling diminati pengunjung adalah kelas memasak, yang bisa disesuaikan dengan menu yang ada dalam list Ecovillange Silimalombu.

Thomas Heinle bersama salah seorang tamu yang sedang mengikuti cooking class/jmh

Mulai dari pemilihan bahan-bahan yang akan dimasak, bisa dipetik langsung dari kebun. Membuat adonan untuk membuat mie goreng,  pasta, pizza dan mengolah secara langsung menjadi menu istimewa, tentunya dengan dampingan pengelola Ecovillage Silimalombu.

Berbagai jenis ternak juga ada di kawasan desa wisata ini, seperti babi, ayam, bebek, kerbau. Pengunjung juga bisa berinteraksi memberi makan ternak hingga mengolah pakan ternak dari tanaman-tanaman yang ada di kebun setempat. Mengkolaborasikan modernisasi dengan aktifitas lokal memang menjadi keunikan tersendiri berwisata di tempat ini.

Pemilik Ecovillage Silimalombu Ratnauli Gultom dan suaminya Thomas Heinle mengelola secara langsung desa wisata ini. Ratna mengatakan, “Semakin orang banyak datang maka semakin kami banyak belajar hal-hal sustainable khususnya tentang pertanian dan kearifan lokal. Di Ecovillage Silimalombu, kita menggunaan segala material dari hasil ladang sendiri. Jadi menu yang kita sajikan, semua bahan-bahannya berasal dari lahan yang kita tanami sendiri. Menu apa saja bisa kita buat disini, seperti menu Italian style Batak taste, salad dari jipang, campur garam dan sedikit cuka mangga dan banyak jenis menu lainnya bisa kita sajikan bersama di sini. Termasuk berbagai produk-produk handmade terbuat dari mangga, kemiri dan lain sebagainya,” ucapnya sambil membuat adonan pizza.

Ratnauli Gultom, sedang menata pizza Khas Ecovillage Silimalombu ke dalam piring saji/jmh

Ratna juga mengatakan, kedepannya akan ada relawan yang akan mengunjungi tempat ini. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Yaitu Program Amati, mereka bekerja untuk kementerian dengan melibatkan mahasiswa. Selama menjadi relawan, para mahasiswa diperbolehkan untuk berbagi dan belajar apa yang lokal lakukan.

Para pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh berupa produk-produk handmade Ecovillage Silimalombu yang  menggunakan material hasil kebun sendiri. Ada minuman brandy, wine mango, handsanitizer, minyak kemiri, rempah lulur, wice, teh bubuk coklat dan lain sebagainya.

Aneka produk handmade dari Ecovillage Silimalombu/jmh

Dan jangan ragu untuk bertanya apa saja komposisi dan bagaimana proses pengolahan dari produk-produk tersebut. Karena Ratna dan Thomas akan dengan senang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung yang datang. Dan harga dari produk-produk ini cukup terjangkau.

Setelah mewabahnya Pandemi Covid-19, tamu terakhir yang datang berkunjung ke Ecovillage Silimalombu adalah Raja dan Ratu Kerajaan Belanda. Kedatangan Raja dan Ratu Kerajaan Belanda telah memberi dampak baik bagi usaha pariwisata yang dikelolanya.

Kedatangan mereka telah memunculkan rasa penasaran Wisatawan Nusantara (Wisnus), Wisatawan Mancanegara (Wisman), khususnya masyarakat lokal. Untuk mencari tahu ada apa di Ecovillage Silimalombu dan mengapa seorang Raja dan Ratu dari Kerajaan Belanda bisa sampai datang kesana.

Ratna dan Thomas berharap, dengan mengenal Ecovillage Silimalombu akan ada banyak orang yang mau belajar dan membuat kegiatan pariwisata dengan lokal style dan tourism sustainable. Karena menurutnya, Tanah Batak itu sudah tercipta kaya. Sekarang tergantung, bagaimana masyarakat lokal itu sendiri ingin menggali kekayaan itu.

Nah, penasarankan tentang Ecovillage Silimalombu ? Tempat ini recommended banget buat Sobat Tobaria kunjungi, jauh-jauh hari sudah harus masuk daftar list liburannya yah. *jmh