Tobaria – Tidak hanya terkenal akan seni ukirnya, suku Batak juga memiliki alat musik spiritual bernama Tulila yang dimainkan Hardoni Sitohang. Memiliki bentuk seperti seruling yang menghasilkan suara layaknya kicauan burung.

Alat musik satu ini nyaris saja tidak dikenali oleh muda-mudi bangsa Batak. Memang mirip seperti seruling, tapi jika diperhatikan akan terlihat beda yakni pada susunan lubang serta ukurannya lebih kecil.

Pada zaman nenek moyang alat musiknya digunakan untuk menciptakan musik penyembahan dan pemujaan terhadap Tuhan pencipta semesta. Oleh karenanya, Tulila disebut sebagai alat musik spiritual dalam upacara adat Suku Batak.

Hardoni Sitohang dan Alat Musik Tulila

Generasi muda suku Batak nampaknya mulai melupakan berbagai warisan kebudayaan bangsa. Muda-mudi Indonesia saat ini mulai tidak mengenali identitas negerinya dan malah lebih menyukai budaya asing dari berbagai negara.

Namun, masih ada satu anak muda suku Batak yang akrab disapa Hardoni Sitohang. Anak muda yang memainkan alat musik Tulila di tengah-tengah goncangan budaya asing, permainan musiknya seperti menghidupkan roh.

Irama yang keluar dari alat musik tersebut bagaikan kicauan burung di pagi hari yang menyegarkan. Iramanya juga memiliki filosofi yakni kemuliaan yang diberikan oleh sang Maha pencipta.

Hardoni Sitohang membawa dan memperdengarkan kembali musik khas Batak kepada generasi muda. Tujuan dari hal itu adalah menjaga serta bentuk melestarikan budaya tradisional daerah yang telah diperjuangkan para leluhur.

Tulila sempat punah, lebih dari 10 tahun orang-orang tidak memainkan alat tersebut hingga lama-kelamaan akan dilupakan masyarakat. Itu membuat Hardoni merasa terpukul hingga akhirnya bangkit dengan membawa irama baru.

Irama baru tersebut didapatkan dari hasil mengadopsi lagu-lagu rohani umat kristiani. Dari situ, akhirnya Tulila dikenal kembali dan sekarang seringkali dijadikan alat musik pengiring umat kristiani ketika beribadah.

Berkatnya, anak-anak muda bisa mendengar alunan musik menentramkan jiwa yang dikeluarkan oleh Tulila. Tidak hanya itu, berkat Hardoni juga alat musik satu ini berhasil diselamatkan dari ancaman kepunahan.

Bukti Spiritual dari Tulila Milik Masyarakat Batak

Pada awalnya alat musik tersebut digunakan sebagai bentuk interaksi dengan Tuhan. Tidak hanya itu, permainannya juga digunakan pada beberapa upacara adat khas suku Batak asli untuk mengiringi upacaranya.

Penggunaannya dalam interaksi kepada Tuhan biasa dilakukan manusia di setiap situasi. Bisa dibilang, ini merupakan media curhat kepada Tuhan baik keadaan senang, sedih, meminta sesuatu layaknya hujan atau cuaca cerah.

Alat musiknya juga dipakai untuk meluluhkan hati dari wanita sombong Batak di zaman dahulu. Jika lelaki batak sedang memainkan alat musiknya, lalu wanita mendengar iramanya maka keduanya akan saling dipertemukan.

Pertemuan tersebut terjadi karena seorang wanita yang mendengar irama tersebut akan mencari sumber suaranya. Seorang wanita sombong yang mengikuti irama tersebut akhirnya akan meminta maaf atas kesombongannya.

Pada budaya batak lainnya, alat musik spiritual ini juga digunakan untuk sambutan bertamu ke rumah wanita. Bertamu di sini memiliki arti mengikat tali merah antara wanita dengan pria yang datang.

Tingkat spiritual dari gawai musik ini juga dibuktikan dengan keberadaannya yang muncul di alkitab. Padahal, alkitab sendiri dibuat jauh sebelum leluhur suku Batak menemukan alat musik Tulila.

Nilai-nilai spiritual dari Tulila terus dihadirkan untuk mengenang dan berinteraksi kepada Tuhan. Meskipun, saat ini alat musiknya hanya diperdengarkan ketika ada acara tertentu, serta digunakan untuk mengusir burung di sawah.

Kesenian Suku Batak sepertinya tidak akan habis jika diceritakan, berbagai hal memiliki fungsi spiritualnya masing-masing. Termasuk Tulila yang digunakan sebagai media interaksi kepada Tuhan pada zaman leluhur suku Batak.