Tobaria – Upacara ziarah kubur menjadi cara untuk menjalin kedekatan antara pihak keluarga dengan orang yang telah meninggal dunia. Di Sumatera Utara, tradisi ini juga dipelihara oleh masyarakat adat Batak melalui tradisi Marsuap atau mencuci muka di atas makam.

Marsuap tak hanya sekedar mencuci muka biasa, melainkan sebuah tradisi simbolik untuk menghapus rasa duka dari keluarga yang ditinggalkan. 

Mengutip YouTube Rumah Batak, Minggu (17/9), Marsuap merupakan salah satu tradisi ziarah kubur yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Tradisi ini dijalankan oleh hampir seluruh masyarakat Batak di wilayah Sumatera Utara. 

Untuk menjalankan tradisi ini terdapat sejumlah tahapan, seperti membersihkan makam, menaruh karangan bunga, berdoa dan dilanjut dengan Marsuap.

Dilakukan oleh tiap anggota keluarga yang hadir di makam

Marsuap dilakukan oleh setiap anggota keluarga yang hadir di makam untuk ziarah. Mereka melakukannya secara bergantian, setelah menaruh bunga dan memanjatkan doa.

Pengertian Marsuap sendiri adalah membersihkan muka dengan air yang bersih dan suci. Air dibawa dari rumah menggunakan teko atau botol dan dituangkan ke tangan sebelum mencuci muka.

Makna lain tradisi Marsuap

Selain untuk menghapus kedukaan, tradisi ini juga disebut memiliki makna lain. Mengutip laman Budaya Indonesia, tradisi Marsuap juga diyakini akan mempermudah seseorang yang meninggal untuk mengetahui siapa yang datang berziarah.

Air cuci muka yang jatuh di atas makan akan menjadi perantara yang akan diterima oleh seseorang yang telah dikubur.

Tradisi ini cukup unik, dan perlu untuk dilestarikan sebagai salah satu warisan budaya tanah Batak. (*)