Kabupaten Simalungun merupakan salah satu dari 8 kabupaten kota yang mengelilingi Danau Toba. Daerah ini menyimpan banyak keindahan alam dan beragam kebudayaan.
Salah satu warisan budaya yang hingga kini masih dilestarikan adalah Tari Topingtoping. Tarian ini merupakan tari tradisional masyarakat Kabupaten Simalungun sejak zaman dahulu.
Biasanya tari tradisional ini dibawakan saat upacara dukacita atau kematian yang sekaligus menjadi sarana penghiburan bagi masyarakat Kabupaten Simalungun.
Tari Topingtoping ini merupakan tarian tradisional yang ditampilkan dalam upacara dukacita yang terdapat di kalangan kerajaan.
Kabupaten Simalungun dikenal memiliki empat marga asli yang dikenal dengan istilah Sisadapur yaitu Sinaga, Damanik, Saragih dan Purba. Konon ke empat marga tersebut memiliki kerajaan besar pada zaman dulu kala. Tarian ini diyakini sudah ada sejak zaman kerajaan dari marga-marga tersebut di atas.

Dalam membawakan tarian ini, penari biasanya akan menggunakan properti yang terdiri dari tiga simbol utama dengan masing-masing makna.
Properti pertama adalah Topeng Dalahi, yaitu berupa topeng menyerupai wajah pria dan dikenakan oleh penari pria. Properti kedua adalah Topeng Daboru yaitu topeng yang menyerupai wajah perempuan dan dipakai oleh perempuan.
Properti ketiga adalah Hudahuda, yaitu topeng berupa paruh Burung Enggang yang tersusun dari jalinan kain. Topeng Hudahuda ini dipercaya akan mengantarkan roh seseorang yang sudah meninggal ke hadapan Debata.
Penampilan tarian ini diiringi oleh musik tradisonal Khas Simalungun. Pertunjukan Tari Topingtoping diawali dengan tabuhan alat musik tradisional Khas Simalungun dengan berbagai ritme. Kemudian masuklah Topeng Dalahi dan Topeng Daboru.
Pakaian yang dipakai oleh penari Topeng Daboru berwarna merah, hitam serta putih dengan corak horizontal. Sedangkan penari Topeng Dalahi memakai pakaian berwarna putih dan celana panjang hitam.

Akan ada beberapa penyanyi yang turut mendampingi para penari dalam pertunjukan Tari Topingtoping ini. Lagu yang dinyanyikan berupa senandung sedih, yang dipastikan akan membuat sedih siapa saja yang mendengarkan.
Nyanyian tersebut hampir mirip dengan pertunjukan musik tradisional andungandung dari Kabupaten Toba atau pertunjukan musik tradisional sinden di Jawa.
Demikian sajian Tari Topingtoping ini, dilansir dari laman Senibudayasia. Semoga seni budaya lokal dari Kabupaten Simalungun ini tetap lestari. (*)
