Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Sarulla yang dikelola oleh Sarulla Operations Ltd di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara adalah pembangkit listrik yang terbesar di dunia.
PLTP Sarulla dibagi menjadi tiga unit yang dikembangkan di dua lokasi, yaitu di Silangkitang dengan kapasitas 1×110 Mega Watt (MW) dan dua unit di Namora-I-Langit (NIL) dengan kapaistas 2×110 MW.
Keberadaan PLTP ini sangat membantu mengurangi defisit listrik yang ada di Sumut. Pembangunan proyek geothermal raksasa ini sempat berhenti selama 27 tahun. Usai molor hampir tiga dekade, PLTP Sarulla akhirnya diresmikan oleh pemerintah pada 31 Maret 2017 lalu.
Pengoperasian PLTP ini pun dilakukan secara bertahap. Unit 1 dioperasikan pada tahun Maret 2017, kemudian unit 2
dioperasikan pada September di tahun sama. Terakhir, Unit 3 dioperasikan pada Mei 2018.

Pembangunan PLTP ini dimulai pertama kali pada tahun 1990. Namun, proyek itu harus tertunda puluhan tahun lamanya lantaran terhambat perizinan dan birokrasi yang berbelit-belit.
Megaproyek geothermal terbesar di dunia ini dikembangkan melalui skema Kontrak Operasi Bersama (KOB) antara PT Pertamina Gethermal Energy (PGE) dengan Sarulla Operation Limited (SOL).
SOL merupakan konsorsium yang terdiri dari PT Medco Power Indonesia, Itochu Corporation dan Kyushu Electric Power (Jepang) dan Ormat International (AS).
Proyek PLTP ini sendiri membutuhkan investasi sekitar US$1,6 miliar yang didanai oleh partisipasi swasta yang dipimpin oleh Medco dengan anggota konsorsiumnya, yang terdiri dari modal (equity) 30 persen dan pinjaman lunak dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan Asian Development Bank (ADB) sebesar 70 persen.

PLTP Sarulla merupakan pembangkit listrik energi panas bumi pertama di Indonesia yang menggunakan tiga metode dalam pembangkitannya, yaitu condensing, bottomic, dan binary.
Pada teknologi tersebut sisa buangan air panas dari uap panas bumi diolah kembali untuk mendapatkan kapasitas daya listrik.
Dengan ketiga metode tersebut, tingkat efisiensi PLTP Sarulla bahkan mengalahkan tiga PLTP lain di Tanah Air, yaitu PLTP Darajat, PLTP Kamojang, dan PLTP Wayang Windu.
Selain itu, aktivitas PLTP Sarulla tidak menggunakan bahan fossil fuel atau batu bara dan sehingga tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu dapat dijadikan sumber tenaga alternatif untuk mengurangi emis gas rumah kaca nasional. (*)
