Danau Toba merupakan salah satu destinasi wisata internasional di Kawasan Danau Toba yang menawarkan pemandangan alam yang indah. Danau Toba juga terkenal sebagai zona produksi kopi berkualitas tinggi. Beragam varietas kopi tumbuh subur di delapan kabupaten kota yang mengelilingi Danau Toba.
Salah satunya adalah kopi Arabika Sigararutang. Nama yang unik disematkan masyarakat kepada kopi ini, karena waktu tanam hingga berbuah terbilang singkat. Yaitu sekitar dua tahun dan dianggap petani bisa membayar utang modal saat menanam dan merawat kopi.

Dalam buku The Little Coffee Know It All yang ditulis Shawn Steiman disebutkan, bahwa kopi yang tumbuh pada ketinggian lebih dari 800 Mdpl diakui memiliki karakter rasa yang berbeda. Misalnya seperti tingkat keasaman, aroma dan cita rasa yang lebih bervariasi.
Hal tersebut bisa Anda temukan dalam secangkir kopi arabika jenis sigararutang ini. Jika kopi ini diseduh ala tubruk, akan menghadirkan aroma khas dan cita rasa yang kuat.
Kopi jenis arabika ini merupakan kopi dataran tinggi yang tumbuh subur di kawasan pebukitan dengan ketinggian di atas 700 Mdpl hingga 1.700 Mdpl. Kopi ini tidak hanya terkenal di Provinsi Sumatera Utara namun diminati pecinta kopi dunia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas kebun kopi arabika di Kawasan Danau Toba seluas 71.955 hektar dan kopi robusta hanya sekitar 19.416 hektar.
Di dataran tinggi Karo misalnya, petani jeruk sudah beralih ke tanaman kopi pasca erupsi Gunung Sinabung pada tahun 2010 lalu.
Saat ini, hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Karo bertanam kopi. Kebun kopi terluas yaitu di Kecamatan Merek, varian yang paling banya ditanam adalah jenis arabika sigararutang.
Hingga tahun 2018, luas areal tanaman kopi di Kabupaten Karo mencapai 9.178,44 hektar dengan produktivitas 1.931,60 kilogram per hektar tiap tahun. Luas areal perkebunan kopi ini kemungkinan bertambah, begitu juga produktivitasnya.

Pemerintah Kabupaten Karo aktif mengadakan penyuluhan pertanian kepada petani, dengan menerapkan teknik ramah lingkungan.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, terjadi peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir. Tahun 2016, produksi kopi di Sumut sebanyak 65.926 ton lalu naik hingga 72.922 ton pada tahun 2020.
Hal ini tentu menunjukkan tingginya angka kebutuhan masyarakat lokal maupun dari luar Kawasan Danau Toba akan kopi lokal dari Kawasan Danau Toba. Hal ini menjadi tantangan bagi petani di delapan kabupaten kota yang mengelilingi Danau Toba.
Eksistensi menghasilkan produk kopi yang berkualitas dan pemenuhan kebutuhan jumlah komoditi kopi yang tidak terputus. Nah, apakah Anda tertantang ingin menjadi petani kopi atau sebagai penikmat kopi saja ?
Itu dia sekilas tentang perkembangan pertanian kopi jenis arabika sigararutang di Kawasan Danau Toba.
