Ketua Persatuan Olahraga Dayung Indonesia (Podsi) Kabupaten Toba, Flores Manurung melepas ekspeditor asal Ambon yaitu Komar Buton alias Marco (27), melarung lingkar luar Danau Toba dalam rangka Ekspedisi Solo Solu Tao Toba Nauli 2021, Desa Sigaol Timur – Kecamatan Uluan, Rabu 09 Juni 2021 lalu.

Upacara mangebang dilakukan oleh tokoh masyarakat setempat, sekaligus pelepasan ekspedisi dengan tujuan awal ke Dusun Panamean. Salah satu program ekspedisi ini, yaitu penanaman Pohon Ungil yang dilaksanakan di Pantai Pakkodian.

Adapun harapan dalam penanaman Pohon Ungil ini, untuk mengingatkan masyarakat khususnya di Kawasan Danau Toba.

Bahwa sejak zaman dahulu, leluhur Suku Batak selalu menanam Pohon Ungil untuk dipanen batangnya sebagai bangunan dan juga bahan utama membuat solu.

Marco bersama masyarakat setempat melakukan penanaman Pohon Ungil di Pantai Pakkodian/ist

Hingga 10 Juli 2021 yaitu, Marco telah menyinggahi beberapa dusun dan desa dari 8 Kabupaten Kota yang mengelilingi Danau Toba. Yaitu Desa Sigaol, Desa Panamean, Desa Pangaloan, Kota Parapat, Tanjung Unta dan Desa Haranggaol, Desa Tongging, Desa Silalahi, Desa Hasinggaan, Desa Harian Boho, Desa Sabulan, Bakkara, Pulo Sibandang, Desa Meat, Pantai Pakkodian, Lumban Silintong, Desa Lumbangaol.

Selanjutkan Marco akan melakukan perjalanan menuju Desa Parparean dan diperkirakan akan tiba di Desa Sigaol – Kecamatan Siregar Aek Nalas, Kabupaten Toba pada 12 Juli 2021. Perjalanan ini sekaligus penutup kegiatan Ekspedisi Solo Solu Tao Toba Nauli 2021.

Ekspedisi tersebut telah dimulai sejak 1 Juni 2021 dan akan berlanjut hingga 20 Juli 2021. Dengan rangkaian perjalanannya menuju Toba, proses adaptasi lingkungan, latihan fisik dan pre ekspedisi yaitu pengenalan sarana transportasi air tradisional Khas Danau Toba yaitu solu.

Keseharian Marco berprofesi sebagai operator rafting di Aligator Rafting Cianten. Mengapa Marco memilih solu sebagai sarana transportasi untuk mengarungi Danau Toba ? Menurutnya, salah satu tujuan dari ekspedisi ini adalah, untuk mempromosikan solu sebagai wahana wisata air tradisional Khas Danau Toba.

Dia menyampaikan, bahwa tujuan ekspedisi ini untuk mengumpulkan dan memberikan informasi kepada khalayak luas. Berbagi skala potensi yang sangat kompleks tentang masyarakat di pesisir lingkar luar Danau Toba. Sekaligus membuat rute wisata petualangan solo solu atau solo kayak di Danau Toba, serta pemuktahiran data kondisi Danau Toba terkini.

Dia juga mengatakan, mengarungi Danau Toba tidak semudah yang dibayangkannya, banyak tantangan yang dihadapinya. Apalagi menggunakan solu, benar – benar pengalaman pertama baginya. Saat sandar di dusun yang dilewati, Marco berbaur dengan masyarakat setempat juga melakukan wawancara dengan pemerintah desa setempat.

Solu, sarana transportasi danau yang Marco gunakan untuk mengeliling lingkar luar Danau Toba/jmh

Marco mengatakan, “Saya merasa survive setelah benar – benar mengarungi Danau Toba. Saya ketemu banyak saudara di sepanjang perjalanan saat mengarungi Danau Toba, keramah – tamahan dari para nelayan juga warga desa yang saya singgahi. Saya hampir tidak menemui kendala, mereka adalah keluarga baru saya. Kalau tentang Danau Toba, banyak hal yang ingin saya ceritakan. Tetapi itu nanti ya, setelah kita usai melarung dulu. Saya berharap sampai waktu sandar tiba, alam akan bersahabat dan menjagai saya,” ucapnya bersemangat.

Usai ekspedisi Solo Solu Tao Toba Nauli 2021 ini, Marco akan merilis berita acara melalui jurnal perjalanan tentang situasi dan kondisi selama ekspedisi. Juga mengakses foto, video, dan dokumentasi ekspedisi. Hal tersebut juga sebagai masukan untuk pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, dalam pengelolaan sumberdaya alam yang ada di Kawasan Danau Toba.

Ekspedisi Solo Solu Tao Toba Nauli 2021 ini terselenggara, atas kerjasama Universitas Mpu Tantular Pecinta Alam (UMTALA), Yayasan Kelestarian Lingkungan Hidup, Rain Forest, Aligator Rafting Cianten, Akasaka, Persatuan Olah Raga Dayung Indonesia (PODSI) Kecamatan Toba dan Tobaria.com.

Di lain sisi ekspedisi ini juga diharapkan dapat memberi dampak positif, untuk penguatan kembali masyarakat adat melalui nilai-nilai luhurnya untuk menjaga lingkungan dan mengkampanyekan kelestarian lingkungan masyarakat Danau Toba. (*)