Ludwig Ingwer Nomensen atau lebih dikenal dengan panggilan I.L Nommensen, lahir di Nordstrand – Denmark yang kini dikenal dengan sebutan Jerman pada 6 Februari 1834. I.L Nommensen meninggal di Sigumpar – Toba Samosir pada 23 Mei 1918, dan tutup usia pada 84 tahun.
Dia adalah seorang penyebar agama Kristen Protestan di antara Suku Batak. Hasil dari perjuangannya yaitu berdirinya sebuah persekutuan gereja terbesar di tengah-tengah Suku Batak Toba yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).
Keberadaan Makam I.L Nommensen juga tak luput dari kunjungan para Wisatawan Mancanegara (Wisman) dan Wisatawan Nusantara (Wisnus). Sebelum Pandemi Covid 19, terdata hampir 100 ribu kunjungan terjadi setiap tahunnya.

Hal ini tentu menjadi pertimbangan khusus bagi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI), untuk mempermudah akses dengan pembenahan berbagai hal mendukung usaha pariwisata di sekitar makam bersejarah tersebut.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, mendorong pengembangan wisata berbasis sejarah dan religi di Kabupaten Toba, Sumatra Utara.
Hal ini disampaikan Sandiaga dalam kunjungannya ke Makam Misionaris Ingwer Ludwig Nommensen di Kawasan Sigumpar – Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara, Kamis 10/6/2021.
Sandiaga mengatakan keberadaan Makam Ingwer Ludwig Nommensen, sebagai jejak sejarah perjuangan Nomensen bagi masyarakat Sumatra Utara, khususnya masyarakat sekitar Danau Toba.
“Ingwer Ludwig Nommensen adalah seorang misionaris dari Jerman yang memberikan pendidikan dan kesehatan modern yang menjadi cikal bakal kemajuan dan pembaruan hidup masyarakat Batak. Nommensen dapat dikategorikan sebagai seseorang yang berjasa yang membawa kemajuan dan mengangkat harkat dan martabat kehidupan orang Batak. Untuk menunjang akses kelancaran pengunjung ke lokasi makam ini, perlu diperhatikan segi infrastruktur, amenitas penunjang, maupun sisi keberlanjutan lingkungan dan penerapan protokol kesehatan yaitu, Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE), kata Sandiaga.
“Kami mendukung lokasi Makam Dr. IL Nommensen menjadi salah satu objek wisata religi, yang diharapkan dapat menambah daya tarik wisata di Kawasan Toba. Ini untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dengan menciptakan lapangan kerja baru, serta mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Kawasan Toba, dan meningkatkan nilai-nilai spiritual bagi para wisatawan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sandiaga juga menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) antara Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Danau Toba (BPOPDT) dengan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), terkait pengembangan potensi wisata dan pengelolaan Makam Misionaris I.L Nommensen.
Dalam kesempatan yang sama, Ephorus HKBP Robinson Butarbutar, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian dari Kemenparekraf/Baparekraf terkait bantuan upaya pembangunan lokasi yang dikelola oleh HKBP tersebut.
“Ini merupakan hadiah dari Bapak Menteri karena dengan kunjungan kerja ke Makam I.L Nommensen, hal ini menunjukkan penghargaan Pemerintah terhadap tokoh yang berperan penting terhadap kehidupan masyarakat Batak. Sehingga cita-cita kita menjadikan Danau Toba menjadi destinasi prioritas dapat tercapai agar kesejahteraan masyarakat terbangun dengan baik di masa yang akan datang,” ucap Robinson.
Kehadiran Sandiaga didampingi oleh Direktur Tata Kelola Destinasi dan Pariwisata Berkelanjutan Kemenparekraf/Baparekraf Indra Ni Tua, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Danau Toba (BPOPDT), Jimmy Bernardo Panjaitan, Bupati Toba Samosir Poltak Sitorus, Sekretaris Daerah Kabupaten Toba Samosir Audy Murphy Sitorus. (*)
