Masyarakat di sekitar Danau Toba memiliki tradisi unik yang beragam. Sampai saat ini, masih banyak dari tradisi tersebut yang dipercaya bahkan dilestarikan.

Salah satunya adalah Tradisi Mardoton. Tradisi ini merupakan tradisi cara menangkap ikan yang dilakukan para leluhur masyarakat Danau Toba sejak puluhan tahun lalu.

Tradisi ini setiap tahunnya masih digelar, tepatnya pada Bulan Sipaha Sada atau bulan pertama pada Penanggalan Kalender Batak. Festival ini digelar di sepanjang bibir Pantai Tuktuk, di Desa Tuktuk Siadong.

Masyarakat, khususnya para pemuda desa, mengemas tradisi tersebut menjadi festival seru yang selalu dihadiri oleh pejabat pemerintahan dan menarik perhatian wisatawan.

Prosesi Festival Mardoton

ist/pelitabatak

Dulunya, Tradisi Mardoton ini dilakukan para leluhur masyarakat Danau Toba dengan menggunakan alat memancing ikan, yaitu bubu.

Namun, seiring berkembangnya zaman, masyarakat kini mulai menggunakan doton atau jaring berbahan kain yang dirajut menjadi mata jaring dengan berbagai ukuran.

Ada serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam Festival Mardoton ini. Acara dimulai dengan kegiatan menurunkan solu atau perahu ke Danau Toba, yang bertujuan agar membawa keberuntungan pada pengguna.

Kemudian, membuat sesajian dari tepung beras untuk media doa kepada Tuhan Sang Pencipta melalui Namboru Saneang Naga Laut, yang dalam kepercayaan masyarakat Danau Toba diyakini sebagai Dewi Air.3 dari 3 halaman

Berbagai Kegiatan Seru

foto/ ist

Dalam festival ini, kegiatan tak hanya berfokus pada acara menangkap ikan saja. Namun, festival ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat melalui beberapa rangkaian kegiatan, antara lain Focus Group Discussion (FGD), pembentukan Komunitas Pardoton, perlombaan Manopong Doton, edukasi ekosistem Danau Toba, dan pameran kuliner.

Kemudian, biasanya diikuti dengan penaburan ribuan benih ikan di Danau Toba, lomba menghias solu atau perahu, pameran kuliner ikan Danau Toba, dan pemutaran film semi dokumenter ‘Ahu Pardoton’, serta penanaman bibit pohon.