Inong…

Nunga mulak be ho tu huta hatubuanmon

Inong…

Alai soada be ekkel dohot joujoumu hubege hami

Nunga toho hape naung jumolo ho manopot TuhanMi

Talu do ho hape maralo sahitmu

Alai monang do nimmu ho

Ala i do dalanmu manomu TuhanMu

Sonang ma ho tutu alai hassit ma hami natinadingkonmon

Inong…

Disorohon ho do mulak naujui

Manopot hahamu, simatuaki nadibagas parsahiton

Laho mangalehon sipanganon na tabo ho nimmu inong tu hahamu

Alai ido ate inong, gabe ho do jumolo manadingkon hahamu

Inong…

Lungun nai inong…

Molo mulak ho tu huta, na lipstick on sai nimmu do andorang so mulak ho tu Papua

Asa lekket au molo tu gareja ido hatamu

Nuaeng nga mulak ho inong, alai dang adong be lipstick tinggalhononmu di au ate inong

Alai ido, dang dao be ho mulak tu Papua inong

Nunga rap di huta be hita, horas ma inong

Borhat ma ho dibagas hasonangan

Songoni nang hami na tinadingkonmu

Sai manghorasi ma tondim tu hami ganup da inong

Inong inong naburju…

Ratapan di atas, merupakan untaian kata-kata yang menyebutkan betapa kehilangannya seorang menantu  atas meninggalnya adik dari ibu mertuanya.

Tangisan atau ratapan pilu yang diungkapkan, berupa untaian kata-kata dari lubuk hati yang terdalam. Terangkai secara spontan menyerupai syair lagu menyayat hati, berdasarkan pengalaman sipangandung dan almarhumah semasa hidup.

Di kalangan Suku Batak ratapan disebut mangandung yang berasal dari kata andung atau tangis. Tambahan imbuhan ma ditambah kata andung yang dibaca mangandung, diartikan sebagai menangis dalam Bahasa Indonesia.

Tidak semua orang bisa mangandung, dalam artian bisa mengungkapkan kepiluannya seolah sedang menyanyikan lagu.

Kemampuan mangandung merupakan suatu talenta, yang juga dilestarikan sebagai salah satu kearifan lokal yaitu sastra lisan dari Suku Batak di Provinsi Sumatra Utara. Kemajuan zaman pelahan-lahan mulai mengikis kebudayaan turun-temurun,  termasuk salah satunya kebiasaan mangandung.

Mangandung adalah kebiasaan yang muncul secara spontanitas, yang dengungnya terdengar hanya pada upacara kematian atau kesedihan lainnya. Pada umumnya perempuanlah yang mangandung, namun tidak menutup kemungkinan jika lelaki pun ada yang sangat paham mangandung.

Mangandung biasanya dilantunkan seseorang pada upacara kematian dari keluarga terdekat. Namun hal ini tidak saja dilakukan pada upacara kehilangan keluarga terdekat, bisa saja pada upacara kematian dari sahabat dekat, tetangga, yang mungkin memiliki keterikatan emosional saat masih hidup.

Peran seorang pangandung sangat berpengaruh di lingkungan keluarga yang berduka, dimana melalui andungandung itu para tamu lainnya bisa menangkap jalan cerita tentang kehidupan orang yang ditangisi. Karena isi dari andungandung adalah ucapan spontan yang pastinya mengenai kesan dan pesan kepada seseorang yang ditangisi.

Seorang pangandung bisa menghipnotis para pelayat, seolah sedang berada di alur syair yang dilantunkan oleh pangandung. Contohnya pelayat yang tadinya terdiam, ketika mendengar syair andungandung menjadi turut bersedih hingga menangis. Hal ini bukanlah rahasia, itu sebabnya disebutkan mangandung merupakan talenta dari seseorang.

Seorang menantu, mangandung dihadapan jenazah ibu mertuanya.

Seni mangandung ini disebut sebagai sastra lisan dan merupakan karya sastra masyarakat lokal. Sastra lisan pada hakikatnya adalah tradisi lisan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu.

Dalam sastra lisan, isi ceritanya seringkali mengungkapkan keadaan sosial budaya masyarakat yang melahirkannya, misalnya, berisi gambaran latar sosial, budaya hingga kepercayaan masyarakat.

Sastra lisan diwariskan secara lisan seperti pantun atau umpasa dan lain sebagainya. Merupakan karya yang kelestariannya tersebar dari mulut ke mulut dan secara turun-temurun. Sebagai produk budaya masyarakat, hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki sastra lisan, baik pantun, prosa maupun puisi.

Dewasa ini keberadaan sastra lisan mulai kehilangan pamornya, yaitu ketidakpedulian masyarakat terhadap sastra lisan akibat zaman gadget dengan segala kemudahan fasilitas didalamnya.

Jangankan remaja, orangtua saja sudah lupa umpasa tetapi hafal cerita Drama Korea dan lain sebagainya. Sastra-sastra lisan kini dianggap sebagai kisah-kisah yang tidak masuk akal, dan berada di luar jangkauan akal sehat. Hal itu tentu saja menjadi ancaman terhadap eksistensi sastra lisan dalam kehidupan masyarakat.

Dan sudah menjadi tanggungjawab bersama untuk melestarikan sastra lisan Batak Toba. Hal ini terlihat dari upaya pemerintah menggali potensi-potensi muda yang memiliki talenta dibidang mangandung.

Melalui lomba-lomba seni budaya, sastra lisan jenis mangandung dari Tanah Batak ini selalu ikut diperlombakan. Sehingga terjaringlah para pangandung profesional baik dari kalangan yang sudah tua dan juga kalangan generasi millenial.