Pembelajaran secara daring dirasa kurang efisien bagi sebagian pelajar dan orangtuanya. Namun masyarakat juga harus mengerti, bahwa pembatasan jam belajar tatap muka merupakan salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Hal ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Para relawan ini melakukan sistem pembelajaran secara tatap muka, berkunjung ke desa-desa dengan menghadirkan jumlah pelajar SD dan SMP sebanyak 50 orang untuk setiap pertemuan 2 jam pelajaran yang berlangsung dari pukul 14.00 Wib hingga 16.00 Wib.
Kegiatan belajar tersebut telah dimulai sejak Minggu, 7 Maret 2021 di Dusun 4 Desa Hutagaol bertempat di rumah Kepala Dusun desa setempat. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan kepada setiap pelajar dan pengajar yang mengikuti proses belajar tatap muka.

Inisiator Komunitas Amuba Frengki Butarbutar menjelaskan, kegiatan para relawan pengajar ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak disekitar Kabupaten Toba. Khususnya ditingkat SD dan SMP agar mereka semakin bersemangat belajar, memperoleh motivasi, wawasan dan pengetahuan yang luas.
Program belajar tatap muka ini berawal dari pantauan aktifitas anak-anak, yang semestinya mengikuti pembelajaran secara daring, namun mengalami hambatan dikarenakan ketiadaan ponsel sebagai media pembelajaran daring dan akses internet dibeberapa desa yang cukup minim hingga membuat sulitnya pembelajaran dilakukan secara daring.
Melihat kondisi tersebut Komunitas AMUBA berinisiatif, mengajak anak-anak muda di Kawasan Danau Toba agar menjadi relawan pengajar dikegiatan tersebut. Frengki menyebutkan, sejak awal Februari sudah ada puluhan pengajar yang mendaftar dengan berbagai latar belakang pendidikan.
Frengki Butarbutar mengatakan, “Kegiatan ini akan rutin dilaksanakan setiap Hari Minggu, dan perdana sudah dilakukan pada Minggu 7 Maret 2021. Pembelajaran ini dilakukan secara gratis. Kita akan mulai dari Desa Hutagaol, Kecamatan Balige Kabupaten Toba terlebih dahulu.
Materi yang diajarkan juga bukan materi akademik tapi sistem pelajaran Self-Esteem. Belajar sambil bermain dengan cara yang menyenangkan dan kreatif. Agar anak-anak tersebut merasa gembira. Materi ajar berupa motivasi dan literasi tentang lmu pengetahun, budaya, teknologi dan lain sebagainya.

Selanjutnya Frengki menyebutkan jika para relawan masih mengajar dengan peralatan seadanya. Meskipun demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi semangat para relawan untuk mengajar.
Dan Komunitas Amuba hingga saat ini masih terbuka, dengan siapa saja yang mau bergabung dengan relawan pengajar di Komunitas Amuba. Sekiranya anda tertarik untuk bergabung, silahkan mendaftar melalui tautan atau melalui sosial media instagram di @amubatoba.
Nah, anda tertarik ingin bergabung menjadi relawan pengajar bagi anak-anak Toba. Mari kita turut mencerdaskan gerenasi muda di sekitar kita. *Jmh
