Berbincang tentang Kartini di era millenial menjadi kajian hangat. Karena zaman Kartini dengan zaman sekarang telah telah jauh berubah. Sepenggal kisah Ibu Kartini yang telah berpulang tahun 1904 lalu. Sebagai refleksi bagi Kaum Perempuan Indonesia, sejenak mengenang pejuang emansipasi perempuan.
Kartini telah membuka pintu bagi para perempuan Indonesia untuk mengenyam pendidikan dan mendapatkan hak-hak mereka. Pemikiran tersebut telah dituangkan dalam surat-surat Kartini, yang dirilis dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang diterbitkan tahun 1911.
Maka peringatan Hari Kartini, diharapkan bisa menjadi ajang penghargaan terhadap perjuangan perempuan. Dan para perempuan memaknai sosok Kartini, benar-benar memberi pengaruh besar dalam kehidupan saat ini.
Sosok Kartini masa kini, dianggap telah mendobrak adat istiadat, sehingga tradisi yang seolah menganggap pria setingkat lebih tinggi dari perempuan tidak berlaku lagi.
Sebenarnya makna Hari Kartini bagi perempuan Indonesia di zaman sekarang adalah Hari Pemberdayaan Perempuan di Indonesia. Istilah pemberdayaan perempuan menjadi penting di era modern ini. Pemberdayaan perempuan tidak mutlak soal berdaya secara ekonomi saja.
Ada aspek lain yang harus dimiliki perempuan untuk bisa menjadi manusia berdaya, agar hak dan kewajibannya berjalan seimbang seperti lelaki. Perempuan Indonesia yang berdaya adalah perempuan yang memiliki kekuatan untuk melakukan hal-hal positif dalam hidupnya dan untuk kepentingan bangsa dan negara.
Perjuangan Kartini untuk perempuan, mempengaruhi peningkatan kualitas hidup perempuan di Indonesia. Perempuan merupakan sumber daya manusia yang sangat berharga. Sehingga posisi dan partisipasinya perlu diikutsertakan dalam pembangunan.
Andai kata Ibu Kartini masih ada saat ini, pasti beliau akan tersenyum. Karena Kartini masa kini adalah perempuan yang kreatif, mandiri, semangat, berpikir positif, berani mengutarakan pendapat dan berfikir masa depan.
Kartini masa kini cerdas dalam bertindak dan mengambil keputusan, berani memperjuangkan hak-haknya sesuai porsinya serta membuat suatu perubahan dalam masyarakat ke arah positif. Pastinya tidak melupakan kodratnya sebagai ibu rumah tangga yang harus seimbang, selaras dan serasi.
Sebagai Kartini saat ini, perempuan harus dapat memperlihatkan jati dirinya dan diakui eksistensinya. Kartini masa kini ikut berpartisipasi mencari solusi suatu masalah bangsa. Perjuangan Kartini untuk perempuan Indonesia juga untuk bangsa dan negara.
Perempuan dibutuhkan untuk pembangunan bangsa. Maka perempuan harus berkualitas, mampu mengemukakan pendapat, kreatif, inovatif, berani bermimpi, berkepribadian baik dan berdaya. Pemberdayaan perempuan sejatinya menguntungkan perempuan dan juga negara.
Mengangkat harkat dan martabat perempuan bukan berarti merendahkan lelaki, tapi menempatkan pada posisi yang semestinya. Menjadi kartini zaman now adalah menjadi sosok perempuan berkemajuan. Berorientasi ke depan, mengantisipasi isu-isu berkembang, berinovasi ilmu dan teknologi, menggunakan informasi secara cerdas, melakukan aksi-aksi responsif dan antisipatif, berdaya juang dan berdaya saing. Sifat yang dibangun adalah dinamis, responsif, memberdayakan, cara berpikir luas dan gemar melakukan kerja-kerja untuk kebaikan publik.
Sehingga perempuan dapat mengenyam pendidikan sejajar dengan lelaki. Perempuan Indonesia pun dapat menduduki jabatan tertinggi. Sosok Kartini edisi Tobaria kali ini, adalah potret perempuan-perempuan pejuang pariwisata Sumatra Utara.
Hasil wawancara kali ini secara keseluruhan telah menggambarkan cita-cita Kartini. Keberanian kaum perempuan bertransformasi, keluar dari zona nyaman dan mencoba berjuang dengan pemikiran dan ide-ide kreatif.
Ratnauli Gultom-Pengelola Desa Wisata Ecovillage Silimalombu

Pertama sekali mendengar cerita tentang sosok Ibu Kartini, saya masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar. Saya terkesan dan sangat terpesona. Di daerah saya, lelaki memang seolah lebih satu tingkat dari kaum perempuan. Tetapi saya tidak merasa rendah diri walau saya seorang perempuan.
Terlahir cerdas jelas sia-sia jika tidak dibarengi dengan pendidikan. Dan hak seorang perempuan sama dengan hak lelaki dalam menerima pendidikan maupun kesetaraan lainnya. Menurut saya, wanita secara emosional jauh lebih stabil daripada pria dan juga produktif secara permanen.
Masyarakat juga harus mengakui hal ini, sesekali lelaki juga boleh memasak, mencuci piring atau membersihkan toilet. Dengan melakukan itu, maka akan muncul pikiran-pikiran produktif.
Saya telah terbiasa bekerja secara mandiri sepanjang hidup saya. Ayah saya meninggal ketika saya berusia 4 tahun dan ibu saya memberjuangkan anak-anaknya. Keadaan ini menjadikan saya menjadi sosok perempuan yang mandiri. Dan 9 tahun ini saya telah menjalani kehidupan ini bersama suami, yang sangat mendukung saya. Saya benar-benar bekerja di tempat yang saya inginkan.
Saya menghindari sebuah upaya, tetapi rasa tanggung jawab yang membuat saya bangun pukul 06.00 Wib dan segera melakukan sesuatu. Visi permanen untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, ide saya sangat banyak dan saya ingin segera terapkan.
Sebelumnya saya pernah bekerja selama 11 tahun dengan posisi management di perusahaan logistik. Tetapi kemudian saya memilih pulang ke kampung, dan mulai membangun impian saya. Di mana saya memiliki banyak waktu bersama orang-orang terpenting dalam kehidupan ini. Bersama suami, saudara juga teman-teman sekolah dan semua orang yang saya kenal yang ingin melaksanakan proyek yang saya rencanakan saat ini.
Elmi Hanum Harahap-Pemandu Wisata Sumatra Utara

Bagi saya sosok Ibu Kartini adalah sosok perempuan yang berbakti kepada orang tuanya. Cita-citanya yang luhur telah membawa perubahan dan dampak positif yang besar bagi perempuan Indonesia. Kesempatan yang dia dapatkan, dari fasilitas atas jabatan ayahnya, yaitu kemudahan menerima pembelajaran. Tidak serta membuatnya hanya memikirkan dirinya sendiri.
Hal ini telah terbukti saat ini, perempuan mampu bersanding bersama lelaki dalam berbagai latar belakang profesi. Bagi saya kehadiran sosok lelaki bagi perempuan memang sudah menjadi takdir. Pastinya dengan berbagai lika-liku kehidupan yang tidak bisa ditentukan oleh manusia itu sendiri. Tentunya Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan karena memiliki alasan.
Saya menggeluti dunia kepemanduan pada tahun 1977. Dan memperoleh sertifikat pemandu wisata dari Kementerian Pariwisata Indonesia pada tahun 1979. Dulu menjadi seorang pemandu pariwisata tidak semudah saat ini. Saya harus mengikuti penataran selama 14 hari, dan sebelumnya, saya memperoleh pengalaman sebagai training pemandu wisata saat senior pemandu wisata bertugas.
Saya menguasai tiga bahasa asing, yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Spanyol dan Bahasa Prancis, berkat mengikuti training dan kemampuan berbahasa asing tersebut akhirnya saya diterima menjadi pemandu wisata hingga saat ini.
Pengalaman bertugas sebagai pemandu wisata, akhirnya saya menguasai tehnik berbicara di depan umum. Pernah sebagai juri untuk pemilihan Duta Pariwisata Deli Serdang dan Kota Medan. Dan sebagai narasumber untuk beberapa pelatihan pemandu wisata muda. Menjadi perempuan mandiri dan bekerja dibidang kepemanduan dan saya sudah tersertifikasi sebagai tour leader dan telah mengantongi sertifikasi sebagai trainer dari Australia.
Apa yang saya dapatkan saat ini, pastinya tidak terlepas dari sosok perjuangan Ibu Kartini. Harapan saya ke depan, agar perempuan Indonesia bersungguh-sungguh menuntut ilmu, berbuat untuk negeri dan tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Salam pariwisata.
Tiolina Sinambela, Pengelola Desa Wisata Museum Huta Bolon

Sosok Ibu Kartini bagi saya adalah seorang ibu yang mampu memotivasi perempuan Indonesia untuk lebih maju dalam berfikir. Sehingga memunculkan keberanian seorang perempu agar produktif dalam kehidupan sehari-harinya. Seorang perempuan yang telah menempuh pendidikan yang layak, pastinya akan menerapkan hal yang sama kepada keturunannya. Karena menurut saya, peran seorang ibu sangat penting dalam kehidupan anak-anaknya.
Bagi saya sosok lelaki sangat penting, Tuhan menciptakan kita berpasang-pasangan pasti karena ada alasannya. Setiap pasangan pastinya aling melengkapi kelamahan dan kekurangannya.
Emansipasi perempuan sejak era Ibu Kartini memang telan mengubah pemikiran. Bahwa seorang perempuan tidak lagi hanya mengurusi dapur, keluarga dan suami. Jika memungkinkan ada kesempatan untuk bekerja di luar rumah, menurut saya itu sah-sah saja. Bukan berarti keluarga tidak penting, tetapi lebih kepada membagi waktu.
Beberapa tahun lalu saya beranikan diri keluar dari zona nyaman. Kebetulan saya kan dulunya menghabiskan waktu di medan. Saya membangun kembali banyak hal di Kabupaten Samosir yang merupakan kampung halaman suami, dan meninggalkan kegiatan dan komunitas saya di tempat tinggal sebelumnya. Awalnya semua begitu sulit, tetapi untuk sampai pada satu tujuan baik saya harus berani menjalani.
Saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan, supaya saya diberi hikmat dalam melangkah. Saya selalu berusaha melihat peluang yang ada dan selama itu positif, saya pasti lakukan dengan optimis. Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari dukungan anak-anak saya.
Sebelum saya memutuskan untuk merawat dan melanjutkan Desa Wisata Museum Huta Bolon-Simanindo, saya pernah turut memperkenalkan Kebudayaan Sumatra Utara bersama Lembaga Kesenian Universitas Sumatra Utara (USU) ke beberapa negara di Eropa, ke Adelaide Australia, lomba vocal grup mahasiswa di Padang , Lomba Pesparawi Tingkat Nasional, juri fashion show di Kabupaten Samosir, mengikuti workshop dibidang art dan lain sebagainya.
Impian saya kepada perempuan generasi milenial, agar memiliki semangat yang sama seperti Ibu Kartini. Berfikir, “out of the box dan berani mengambil tindakan positif.” Karena kesetaraan gender, setiap perempuan wajib mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan, politik,sosial budaya dan menikmati hasil pembangunan. (*)

Sukses buat Kartini Batak ini
Dan menyusul yg muda2