Tobaria – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura terus mendorong pengembangan kawasan skala ekonomi yang disebut “Kampung Bawang”.
Konsep kampung ini didukung dengan sarana pertanaman, pengendalian hama penyakit dengan pemberian pestisida nabati, penyediaan pupuk baik organik serta dukungan benih unggul yang memadai.
Tahun ini, Kabupaten Samosir menjadi salah satu sasaran pengembangan kampung bawang merah nasional. Diperkirakan total sasaran lahan pengembangan tersebut seluas 40 hektar yang tersebar di 6 kecamatan.
Pendistribusian bantuan bibit bawang merah dengan varietas batu ijo dan biru lancor ada sebanyak 40 ton untuk luas lahan 40 hektar dengan rincian untuk varietas Batu Ijo sebanyak 18 ton tersebar di 4 Kecamatan. Ada sejumlah 12 poktan penerima (Kecamatan Pangururan 2 ton, Sitiotio 9 ton, Simanindo 5 ton dan Nainggolan 2 ton), untuk varietas Biru Lancor ada di 4 Kecamatan jumlah penerima 12 poktan (Pangururan 6 ton, Sitiotio 9 ton, Sianjur Mulamula 6 ton dan Palipi 1 ton).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Samosir melalui Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sondang H Sukmana berharap dukungan dari setiap lini termasuk para Penyuluh Pertanian untuk memberikan edukasi tentang budidaya bawang merah yang baik agar nantinya program kampung bawang berjalan dengan baik, sukses sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Tujuan dari program ini adalah untuk memacu semangat petani bawang merah Samosir agar dapat meningkatkan produktivitas dan tentunya pendapatan petani itu sendiri,” kata Sondang.
Menurutnya, keberhasilan program pertanian ini memerlukan komitmen bersama dari seluruh pihak, baik para petani, para petugas pertanian yg mendampingi serta perhatian pemerintah daerah untuk keberlanjutan kampung yang berdaya saing.

Pun demikian, pihaknya terus berupaya meningkatkan produksi tanaman pangan guna secara mandiri dapat memenuhi kebutuhan lokal maupun luar daerah, menguatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian daerah dan kesejahteraan petani itu sendiri.
Namun upaya itu akan jalan ditempat kalau dengan terobosan yang biasa-biasa saja, sehingga perlu pendekatan dengan cara baru atau inovasi yang tidak lagi mengandalkan pupuk kimia.
“Semoga program kampung bawang merah in dapat memotivasi petani untuk meningkatkan produksi dan penerapan budidaya yang kembali kepada alam untuk mengurangi ketergantungan kepada penggunaan pupuk kimia yang berlebihan” terangnya.
Saat ini ketergantungan petani terhadap pupuk bersubsidi kimia menjadi persoalan tersendiri dalam pembangunan pertanian. Terlebih ketika alokasi pupuk subsidi tersebut tak sesuai dengan permintaan petani, akibatnya gejolak kelangkaan pupuk pun terjadi.
Berangkat dari permasalahan hal tersebut, Pemkab Samosir melalui Dinas terkait terus mendorong petani agar tak lagi tergantung dengan penggunaan pupuk kimia bersubsidi dan bisa mandiri dalam penyediaan pupuk untuk kepentingan pertaniannya.
Pemerintah daerah juga turut serta mengawal dan mendukung agar pembangunan sektor pertanian lebih maju, mandiri dan modern dalam menerapkan pertanian ramah lingkungan yang tahan dalam perubahan iklim yang tidak menentu. (*)
