Tobaria – Tak hanya soal tempat wisata saja, Tanah Batak juga dikenal memiliki kebudayaan beragam yang masih kental hingga sekarang. Bahkan tak sedikit yang masih dilaksanakan hingga era modern seperti saat ini. Dan ada sebuah tradisi yang tak banyak orang tau yaitu tentang sebuah lokasi yang ada di Tanah Batak ini. Sebuah lokasi tersebut bernama Huta Siallagan.
Mungkin jika mendengar tentang cerita kanibal, Anda tidak akan percaya bahwa dahulu di Tanah Batak pernah terjadi hal tersebut. Karena memang rasanya itu mustahil, mengenal orang orang berdarah batak disekitar kita sekarang sangat ramah.
Awalnya, mungkin Anda mengira hanya sebatas ungkapan karena nada suara orang Batak yang terkenal kuat dan terkesan marah seperti ingin makan orang, namun ternyata bukan.
Cerita ini benar adanya pernah terjadi di sebuah wilayah bernama Huta Siallagan Samosir. Makan orang yang dimaksud adalah kanibalisme, manusia memakan manusia dalam artian yang sebenarnya
Meskipun kini tradisi tersebut memang sudah lama hilang, namun ada yang belum hilang dari sejarah kanibalisme ini. Yaitu perkampungan Huta Siallagan yang masih eksis memelihara cerita dan peninggalan yang menyatakan kebenaran akan memoar Marco Polo dan para Missionaris.
Lokasi dan Rute
Dari pusat kota Medan, Anda bisa menuju ke Parapat, salah satu pintu gerbang Danau Toba yang biasa ditempuh sekitar 4 hingga 6 jam perjalanan.
Tiba di Danau Toba, Anda melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal boat yang memang menjadi transportasi bagi wisatawan, Anda akan diajak menuju ke Desa Ambarita. Nama Desa Ambarita memang kalah tersohornya dari Desa Tomok yang jadi pusat wisata budaya dan belanja yang ada di tanah Samosir.
Beruntunglah Anda jika masuk ke dalam rombongan tour karena penumpang yang turun di dermaga ini kebanyakan memang rombongan tour, karena kapal jarang ada yang membawa penumpang reguler ke desa ini.
Jadi jika tidak bersama rombongan, Anda bisa turun di Tomok, kemudian menyewa sepeda motor atau sepeda menuju Ambarita melalui jalur darat.
Sekitar 40-50 menit sudah bisa masuk kampung kanibal. Sampai di dermaga, Huta Siallagan Samosir belum akan kelihatan. Dolaners masih harus berjalan kaki sekitar 100 meter ke dalam gang hingga bertemu dengan tembok setinggi 2 meter yang mengelilingi sebuah wilayah. Dan disini lah Huta Siallagan Kampung Kanibal itu berada.
Cerita tentang Hukum Kanibal di Huta Siallagan

Raja dan masyarakat Huta Siallagan tak asal makan manusia kalau lapar, manusia yang dimakanpun ada alasannya. Yaitu terdapat hukum adat yang jatuh pada seseorang yang melakukan tindak kejahatan seperti pemerkosa, penghianat, serta musuh.
Nasib sang terdakwa yang diketahui melakukan salah satu kejahatan seperti yang telah disebutkan tadi, akan didiskusikan di batu persidangan. Sejauh mana kesalahan akan ditentukan di meja dan kursi yang melingkar ini. Ada dua jenis hukuman yang mungkin terjadi untuk masyarakat Huta Siallagan Samosir, yaitu hukum pasung atau hukum pancung.
Dalam persidangan biasanya raja dan petinggi lainnya mencari hari baik untuk mengeksekusi berdasarkan kalender batak. Jika persidangan telah diputuskan, maka hukuman menanti.
Untuk yang diputuskan dipancung, sambil menunggu hari eksekusi tiba, mula mula terdakwa akan dipasung terlebih dahulu di salah satu rumah bolon yang ada.
Dan ketika hari eksekusi tiba, terdakwa akan dipindah tempatkan menuju lokasi eksekusi. Selanjutnya, terdakwa akan digiring menuju ke lokasi eksekusi. Di sana sudah ada meja meja dan kursi. Meja meja batu tersebut menjadi tempat penyiksaan hingga pemenggalan kepala.
Pertama tama, terdakwa akan disiksa dengan cara dipukul kepalanya, dan disayat kulitnya. Jika tidak berdarah atau tidak mati, itu pertanda bahwa terdakwa memiliki ilmu.
Ilmu ini harus dihilangkan terlebih dahulu menggunakan jeruk nipis. Caranya dengan jeruk nipis tersebut ditetesi di tubuh yang telah disayat. Tahap selanjutnya adalah pemenggalan kepala.
Di tempat yang telah disiapkan, terdakwa dipenggal kepalanya oleh algojo. Di sini, harga diri algojo pun dipertaruhkan, akan semakin meningkat kemansyurannya jika ia berhasil memisahkan kepala dan badan terdakwa dengan sekali tebas di Batu Persidangan Huta Siallagan.
Lalu bagaimana nasib tubuh dan kepala yang telah terpisah? Kepala tersebut akan digantung di depan desa agar musuh atau warga tahu akan adanya eksekusi ini.
Hal ini tentu akan membuat orang yang melihatnya menjadi takut. Tubuhnya akan dipotong menjadi beberapa bagian untuk dimasak dan dimakan bersama sama.
Sementara bagian organ dalam akan dimakan oleh raja. Nah, masyarakat Huta Siallagan di Samosir percaya bahwa dengan memakan bagian tubuh tersebut, ilmu yang dimiliki oleh terdakwa akan pindah ke tubuh orang yang memakannya. Dan hingga kini, barang barang bersejarah tentang tradisi kanibal warga Huta Siallagan Samosir tersebut masih ada dan terawat.
