Gondang Naposo adalah tradisi masyarakat Suku Batak yang bertujuan sebagai media perkenalan dan tegur sapa bagi pemuda dan pemudi, berbalas pantun, sampai melangkah ke jenjang perkawinan.

Pada dasarnya, pagelaran Gondang Naposo ini tidak hanya berkaitan dengan kaum naposo (muda-mudi) saja. Berawal dari tradisi lama, acara ini justru diprakarsai oleh orang tua yang pendanaannya digalang dari penduduk setempat.

Gondang dimaksudkan sebagai acara yang bersifat ritual, sedangkan Naposo diartikan sebagai muda-mudi yang belum berkeluarga.

Acara Pesta Gondang Naposo biasanya diawali dengan adanya Tonggo Raja (Rapat) antara para orang tua dengan pemangku adat dan mempersiapkan acara dengan mengumpulkan Naposobulung (muda-mudi) dari berbagai desa untuk ber-Gondang Naposo.

Gondang Naposo ini dijadikan sebagai sarana mencari jodoh bagi mereka yang sudah cukup umur untuk berumah tangga tetapo belum menemukan pendamping hidup (rokkap).

Kaum muda dari berbagai kabupaten memeriahkan Festival Gondang Naposo (Foto Antara Sumut/ist)

Festival Gondang Naposo biasanya digelar saat bulan purnama setelah upacara Mangsae Taon yang biasanya dilaksanakan setelah panen raya. Mangsae Taon merupakan sebuah hari raya bagi masyarakat Batak tempo dulu. Di beberapa daerah, ada yang menyebutnya Pesta Bius, Pasahat Horbo Bius, Patasumangot, atau yang lainnya.

Pagelaran Gondang Naposo umumnya berlangsung selama dua hari. Hari pertama adalah acara maminta tua ni gondang sebagai tradisi pembuka acara gondang pada budaya Batak yang dimulai pada sore hari.

Di acara itu, para orang tua memberikan berkat kepada anak-anak mereka, lalu bergembira menari dengan tata kesopanan yang berlaku.

Pada hari selanjutnya, sejak pagi hari para naposo telah diberi izin untuk memulai acara tortor (tarian khas Batak) sebagai pertunjukan kepada para tamu undangan.

Setiap rombongan tamu undangan biasanya akan membawa persembahan untuk naposo yang disebut santisanti berupa uang yang dimasukkan ke dalam tandok kecil atau diletakkan di atas pinggan berisi beras.

Festival Gondang Naposo sebagai wadah mempromosikan wisata Samosir/ist

Ketika naposo dari pihak tulang (paman) telah mempersilahkan para iboto (kemenakan perempuan) mereka menari, itu pertanda bahwa naposo baoa (laki-laki) untuk melirik dan mengajak menari.

Ketika gaya menari ada yang kecantol dan mendapat sambutan, biasanya akan dilanjutkan dengan tarian kedua. Di sinilah tahap pematangan apakah saling menyukai atau tidak, dari tarian tersebut dapat terlihat yang menerima dan yang menolak.

Apabila diterima, maka si laki-laki menyematkan daun beringin di kepala pujaannya itu, begitu pula sebaliknya. Ketika kasih terjalin, maka pihak orang tua yang terus mengawasi mereka akan mencatatkan dalam agenda mereka dan melakukan penelusuran lanjutan ke jenjang yang lebih serius.

Pertunjukan ini biasanya akan selesai sampai sore hari dengan dikembalikan kepada orang tua untuk menutup acara. (*)