Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) terkenal dengan karya masyarakat dengan keberagaman ekonomi kreatifnya. Baik produk souvenir, kuliner, wisata alam hingga wisata buatan.
Salah satunya adalah, Sentra Pembuatan Lonceng Gereja di Desa Sitampurung – Kecamatan Siborongborong. Desa ini terkenal dengan keterampilan turun – temurun yaitu sebagai si topa bosi, atau pandai besi lonceng gereja dan masyarakat di Kawasan Danau Toba menyebutnya giringgiring.
Ciri khas dari desa ini adalah, terdapat giringgiring gereja berbagai ukuran. Dari ukuran kecil hingga ukuran besar, semua dipajang oleh masing – masing pandai besi di halaman rumahnya. Hal tersebut bertujuan untuk menarik minat pembeli, maupun pengunjung yang sengaja datang ataupun melintasi desa tersebut.
Ciri khas lain dari desa ini adalah sepanjang jalan Desa Sitampurung, di pagi hari hingga sore hari akan terdengar suara besi saling beradu. Pertanda, produksi besi sedang berlangsung.
Giringgiring adalah produksi utama para pandai besi dari desa ini. Berbagai ukuran ukuran giringgiring bisa ditempah.
Selain memproduksi giringgiring, pandai besi di desa ini juga memproduksi alat – alat perkebunan dan pertanian, seperti egrek, parang, babat, pisau, sabit, cangkul dan lain sebagainya.
Proses pembuatan giringgiring, membutuhkan waktu 1 minggu. Pekerjanya adalah pandai besi yang sudah ahli menempah giringgiring.

Menempah giringgiring berukuran besar, membutuhkan 4 orang pandai besi. Para pandai besi menggunakan helm, sarung tangan dan sepatu boot sebagai kelengkapan bekerja.
Peralatan yang dibutuhkan adalah martil dengan bobot 5 kg dan proses pembakaran. Proses pengerjaan dimulai dari membakar pipa besi dalam bara api.
Tahap demi tahap mulai membentuk pola giringgiring seperti yang diharapkan, terlihat kekompakan para pandai besi. Pipa besi berukuran besar mulai ditempah dengan membentuk salah satu sisinya, dari segi 4 ke segi 8, hingga akhirnya menyisakan lubang kecil dengan diameter 10 cm. Lobang itu digunakan sebagai tempat penyambungan gantungan bandul.
Selanjutnya menghaluskan giringgiring dengan garenda dan pemasangan bandul dan juga gantungan. Pandai besi juga harus menguji kenyaringan dari dentang giringgiringnya. Untuk memperindah giringgiring, proses akhir yaitu pengecatan.
Upah pandai besi penempah lonceng senilai Rp. 250.000/hari, untuk penempah alat -alat perkebunan dan pertanian senilai Rp. 150.000/hari.
Harga giringgiring gereja bervariasi. Tergantung design dan berat giringgiring. Semakin berat sebuat giringgiring, maka suara dentang yang dihasilkannya semakin nyaring.
Harga 1 unit giringgiring berukuran besar ini dikenai harga sekitar Rp.10.000.000,- hingga Rp.20.000.000.
Untuk Anda, dimanapun berada mari bantu para pandai besi untuk memasarkan produk giringgiringnya. Para pandai besi di Desa Sitampurung siap melayani penjualan ke seluruh Indonesia. (*)
