Paralayang saat ini bukan sekedar olahraga atau hobi lagi. Beberapa prestasi dari olahraga paralayang ini telah menorehkan sukses yang membanggakan dengan diikutsertakan dalam kejuaraan Pekan Raya Nasional (PON), pada tahun 2004 mengikuti PON Paralayang di Sumatra Selatan, tahun 2008 mengikuti PON di Kalimantan Timur, tahun 2012 mengikuti PON di Riau dan tahun 2016 mengikuti PON di Jawa Barat.
Terbentuknya Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia (PGPI) sekitar tahun 1996 dan paralayang resmi menjadi olahraga dirgantara yang tergabung di Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Dan tahun 1997 hingga tahun 1999 merupakan tahun pembinaan prestasi paralayang.
Sekitar tahun 1992 aktivitas penerbangan dengan paralayang masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini sudah ada 3.000 penerbang paralayang yang telah mengantongi lisensi sebagai penerbang paralayang.
Sejak tahun 1994 hingga tahun 2000 merupakan awal pengenalan wisata dirgantara di Indonesia baik terbang single maupun tandem. Tandem paralayang profesional dimulai sejak tahun 1995. Saat ini penerbangan paralayang secara tandem sangat diminati oleh wisatawan dirgantara.
Dalam hal ini, masyarakat di Kawasan Danau Toba harus bersiap khususnya dibidang pariwisata dan kepemanduan wisata minat khusus. Karena kehadiran Wisatawan Mancanegara (Wisman) dan Wisatawan Nusantara (Wisnus) memiliki beragam tujuan datang ke Danau Toba. Masyarakat di Kawasan Danau Toba sudah seharusnya bersiap untuk membuka diri, mengenali peluang-peluang pariwisata sebagai potensi usaha.
Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Daerah Provinsi Sumatra Utara Bidang Pembinaan dan Prestasi Paramotor Wira Tua Saragi menyebutkan jika hingga saat ini FASI Tapanuli Utara masih dalam proses pembentukan. Namun hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk merangkul generasi-generasi penerus di bidang olahraga dirga khususnya paralayang. Para penerbang paralayang ini tergabung dalam Club Patiaraja Tapanuli Utara (Parata).
Kabupaten Tapanuli Utara kini memiliki 7 penerbang paralayang yang telah mengantongi lisensi PL 1 (Novice Pilot). Ketujuh penerbang paralayang tersebut adalah Onris Simaremare, Andi Rajagukguk, Jekson Siregar, Enjel M Siregar, Desmon Simaremare, Zulkifly Rajagukguk dan Rudi Simaremare.
Wira mengatakan, “Saya berharap dari ketujuh penerbang paralayang ini, kelak ada yang bisa menjadi atlet paralayang. Dan mendapat kesempatan membawa nama Provinsi Sumatra Utara, khususnya Kabupaten Tapanuli Utara. Menjadi atlet berprestasi, mengikuti pelatda, pelatnas dan berharap kelak bisa meraih juara di event-event nasional dan internasional terkait cabang olahraga paralayang. Kami secara rutin latihan dan berharap olahraga paralayang ini akan semakin diminati di daerah kami. Dan melalui olahraga ini, kami juga berharap bisa mengurangi kenakalan remaja saat ini khususnya narkoba,” ucapnya.
Wira juga berharap timnya bisa turut berpartisipasi, memajukan pariwisata di Tapanuli Utara dan kabupaten-kabupaten sekitarnya, melalui olahraga aero sport ini khususnya cabor paralayang. Konsisten berlatih walaupun masih memanfaatkan 2 parasut paralayang yang dimiliki saat ini.

Untuk saat ini para penerbang paralayang ini hanya bisa melakukan atraksi tunggal dan tim saja. Untuk agenda pariwisata seperti terbang tandem, ketujuh penerbang paralayang ini masih harus mengikuti beberapa sesi pelatihan hingga mendapatkan lisensi untuk terbang tandem. Tentunya hal ini perlu didukung dengan kelengkapan peralatan terbang paralayang khusus tandem. Dalam hal ini, Wira bersama timnya berharap perhatian Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara untuk pengembangan olahraga paralayang tersebut.
Nah, jika Anda penasaran dengan keseruan terbang paralayang ini. Silahkan berkunjung ke Club Parata – Geosite Hutaginjang, Kabupaten Tapanuli Utara. Disini Anda bisa bertemu para penerbang paralayang dan bertanya langsung bagaimana keseruan saat terbang. *Jmh

MAU JADI ATLET…. D I S I P L I N ON TIME I