Tobaria – Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, bersiap menjadi salah satu pusat perhatian wisatawan dan pelaku seni budaya pada September 2026.

Toba Caldera Culture Festival (TCCF) 2026 akan digelar selama empat hari di Kecamatan Pangururan dengan menghadirkan perpaduan budaya Batak, seni pertunjukan, musik, hingga kompetisi paduan suara bertaraf internasional.

Mengangkat tema “Kaldera Toba Bergema: Suara dari Toba”, festival ini dirancang bukan hanya sebagai ajang pertunjukan seni, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat di kawasan Danau Toba kepada masyarakat internasional.

Keindahan Danau Toba menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan TCCF 2026. Kawasan kaldera vulkanik tersebut tidak hanya dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, tetapi juga memiliki nilai geologi dan budaya yang kuat. Kawasan Kaldera Toba sendiri telah mendapat pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Bukan Sekadar Festival Paduan Suara

Salah satu agenda utama dalam TCCF 2026 adalah Samosir International Choir Competition (SICC). Kompetisi tersebut mempertemukan penyanyi paduan suara dan vokal solo dari berbagai daerah dengan penilaian oleh juri dari Indonesia, Asia, hingga Eropa.

Hingga saat ini, setidaknya 2.000 penyanyi paduan suara dan 70 penyanyi vokal solo telah mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi tersebut.

Kehadiran SICC menjadi bagian penting dari konsep TCCF karena suara dan musik ditempatkan sebagai media untuk memperkenalkan budaya. Paduan suara tidak hanya dipertandingkan dari sisi kemampuan musikal, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman budaya yang berlangsung langsung di kawasan Danau Toba.

Kompetisi ini berada di bawah arahan Ondi Yohan Tambunan selaku Artistic Director SICC. Peserta akan mengikuti berbagai kategori kompetisi paduan suara dan vokal solo yang dinilai oleh dewan juri dengan latar belakang dari Indonesia, kawasan Asia, serta Eropa.

Dengan jumlah peserta yang telah mencapai ribuan penyanyi, SICC diharapkan dapat memperkuat posisi Samosir sebagai salah satu tujuan penyelenggaraan kegiatan seni dan musik internasional.

Mengangkat Filosofi dan Identitas Masyarakat Batak

TCCF 2026 juga membawa misi yang lebih luas, yakni memperkenalkan kehidupan dan identitas masyarakat Batak kepada pengunjung dari berbagai daerah maupun mancanegara.

Bagi masyarakat Batak, Danau Toba memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sosial, budaya, serta nilai-nilai spiritual. Karena itu, festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga berupaya membawa nilai budaya tersebut ke dalam rangkaian acara.

Tiga unsur yang menjadi bagian dari filosofi budaya Batak turut diangkat dalam festival, yaitu Dalihan Na Tolu, Tondi, serta Gondang dan Tortor.

Dalihan Na Tolu merupakan prinsip kekerabatan yang menjadi salah satu fondasi hubungan sosial masyarakat Batak. Nilai tersebut menggambarkan pentingnya keseimbangan dan penghormatan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara Tondi berkaitan dengan konsep jiwa atau semangat kehidupan yang memiliki makna penting dalam pandangan masyarakat Batak.

Adapun Gondang dan Tortor menjadi bagian dari ekspresi seni dan tradisi Batak yang telah diwariskan secara turun-temurun. Musik dan tarian tersebut akan menjadi salah satu unsur budaya yang memperkuat karakter TCCF 2026.

Tujuh Kabupaten di Kawasan Danau Toba

Penyelenggaraan TCCF di Samosir juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan keragaman budaya yang berkembang di kawasan Danau Toba secara lebih luas.

Kawasan Danau Toba mencakup tujuh kabupaten, yaitu Kabupaten Toba, Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Simalungun.

Masing-masing wilayah memiliki karakter budaya, tradisi, kesenian, hingga kuliner yang berbeda. Keberagaman tersebut menjadi potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya di kawasan Danau Toba.

Melalui TCCF 2026, masyarakat yang datang ke Samosir tidak hanya ditawarkan pemandangan alam, tetapi juga kesempatan untuk mengenal lebih jauh sejarah, adat, kesenian, kehidupan masyarakat, serta kuliner khas kawasan Toba.

Target 10.000 Pengunjung

Ketua Panitia TCCF 2026, Rios Sabar Andriano Tampubolon, S.H., mengatakan festival tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menyelenggarakan kompetisi paduan suara.

Menurutnya, kompetisi internasional yang menjadi bagian dari TCCF dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan budaya dan adat istiadat Nusantara kepada dunia.

“Kompetisi paduan suara ini menjadi daya tarik untuk memperkenalkan budaya dan adat-istiadat Nusantara ke kancah internasional yang digelar langsung di Pangururan, Samosir, di tepi Danau Toba,” ujar Rios Sabar.

Panitia menargetkan sekitar 10.000 pengunjung hadir selama pelaksanaan TCCF 2026. Sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan juga direncanakan hadir, mulai dari tokoh agama, pemangku adat, kepala daerah, hingga Menteri Pariwisata Republik Indonesia.

Besarnya target kunjungan tersebut diharapkan turut memberikan dampak terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat, khususnya pelaku usaha yang bergerak di bidang akomodasi, kuliner, transportasi, hingga ekonomi kreatif.

Dibuka dengan Pertunjukan Tradisional Batak

Rangkaian TCCF 2026 akan diawali dengan Opening Ceremony yang menampilkan pertunjukan tari tradisional Batak.

Pertunjukan tersebut diharapkan menjadi pembuka yang menggambarkan karakter budaya lokal sekaligus menyambut para peserta dan pengunjung yang datang dari berbagai wilayah.

Selain kompetisi musik dan paduan suara, festival juga menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai bentuk seni dan tradisi Batak kepada audiens internasional.

Panitia berharap keberadaan TCCF dapat membangun ketertarikan baru terhadap budaya Danau Toba, terutama di kalangan generasi muda dan masyarakat internasional.

Membawa “Suara dari Toba” ke Dunia

Melalui tema “Kaldera Toba Bergema: Suara dari Toba”, TCCF 2026 ingin menjadikan musik sebagai jembatan antara budaya lokal dan masyarakat global.

Suara yang hadir dari panggung festival bukan hanya berasal dari para penyanyi yang berkompetisi, tetapi juga dari tradisi, masyarakat, dan kebudayaan yang tumbuh di sekitar Danau Toba.

Dengan menggabungkan kompetisi paduan suara internasional, vokal solo, pertunjukan seni tradisional, serta pengenalan budaya Batak, TCCF 2026 diharapkan mampu memberikan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung.

Festival ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat Samosir sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan alam. Bagi wisatawan, kehadiran TCCF 2026 dapat menjadi alasan tambahan untuk mengunjungi Pangururan dan menikmati langsung suasana Danau Toba.

TCCF 2026 pada akhirnya tidak hanya mengajak pengunjung untuk melihat Danau Toba, tetapi juga mendengarkan, mengenal, dan merasakan kehidupan budaya yang telah tumbuh di sekitarnya selama generations.

Festival tersebut menjadi sebuah undangan terbuka untuk datang ke Samosir dan menyaksikan bagaimana musik, tradisi, alam, serta identitas masyarakat Batak dipertemukan dalam satu perayaan budaya bertaraf internasional.(*)