SUMATERA UTARA, 2026 – Kawasan Toba Caldera UNESCO Global Geopark kini bersiap menapaki misi besar untuk bertransformasi menjadi pusat wisata kopi terbesar di dunia. Melalui pelaksanaan Festival Kopi Danau Toba ke-3, Koperasi Geopark Danau Toba secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat posisi kawasan tersebut di peta perkopian internasional.


Visi ini mencakup wilayah terpadu yang membentang di delapan kabupaten di sekitar Danau Toba, yakni Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, hingga Pakpak Bharat. Setiap kabupaten tersebut (kecuali Pakpak Bharat) saat ini telah memiliki sertifikasi Indikasi Geografis (IG) Kopi, yang menegaskan karakter unik dan kualitas unggul komoditas lokalnya di tingkat dunia.


Sebagai danau vulkanik terbesar di dunia, Danau Toba dinilai memiliki ekosistem alami yang sangat ideal bagi budidaya kopi berkualitas tinggi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa menanam kopi telah menjadi budaya turun-temurun bagi masyarakat lokal; hampir setiap keluarga yang memiliki lahan ikut serta dalam membudidayakan tanaman ini, menjadikannya pemandangan dominan di sepanjang lintasan kawasan wisata Toba.


Festival Kopi Danau Toba ke-3 diharapkan menjadi katalisator bagi ekosistem ini dengan menghadirkan kekayaan Kopi Nusantara, dari Aceh hingga Papua. Ke depannya, kawasan ini juga berencana mengundang para produsen utama kopi dunia seperti Brasil, Kolombia, Vietnam, Honduras, serta Ethiopia sebagai negara asal kopi, untuk berkolaborasi dan memperkuat jejaring industri kopi global di Sumatera Utara.(*)