Tobaria – Beberapa waktu lalu, Dinas Pariwisata Kabupaten SImalungun menggelar kegiatan budaya dengan mengangkat Tortor (Tarian) Toping – Toping Huda – Huda sebagai Ikon destinasi budaya.
Gelaran budaya Simalungun yang melegenda itu diadakan di RTP Pantai Bebas, Girsang Sipangan Bolon, Parapat, Sumatera Utara. Hasil kejasama dengan Sanggar Tari Bindu Matoguh.
Tortor Huda – Huda atau sering disebut dengan Toping – Toping merupakan tarian khas daerah Simalungun yang gelarannya diadakan pada saat upacara duka. Konon, makna tersirat dalam gelaran itu adalah ungkapan rasa turut berbela sungkawa atas apa yang sedang terjadi sekaligus memberi penghiburan bagi sanak saudara yang ditinggal.
Bagi masyarakat adat Simalungun, Huda – Huda sering diartikan dengan Toping -Toping, yang dalam bahasa kesehariannya mempunyai arti topeng. Topeng adalah materi yang sering digunakan pada saat gelaran tortor Huda – Huda berlangsung. Pun demikian, topeng yang dipakai saat gelaran tidaklah sama. Pria memakai topeng yang bebeda dengan wanita, toping Dalahi sebutan untuk topeng laki-laki dan toping Daboru untuk wanita.
Menurut cerita para tetua adat tentang asal muasal dari gelaran tortor Toping Huda – Huda. Alkisah, pada jaman dahulu di Kerajaan Simalungun. Seorang Raja bijaksana dan dicintai seluruh rakyatnya mengalami pergumulan yang sangat berat karena kehilangan putra tunggal penerus kerajaan.
Kematian putra tunggal menjadi pukulan besar bagi keluarga kerajaan. Bak disambar petir Sang Permaisuri pun tak terima dengan keadaan itu, Dia tak rela kalau harus berpisah dengan anak si mata wayangnya, sampai dia tak mengijinkan anaknya dikubur.

Duka mendalam membuat Sang Permaisuri serasa tak bisa melewati hari harinya. Bagi Dia tak ada yang bisa menyiratkan untuk bertahan dalam guncangan. Rakyatnya pun terbesit mendengar berita itu. Pendek cerita dari sanalah mereka mencari cara untuk memberi penghiburan sebagai penyemangat buat keluarga kerajaan yang tengah di rundung malang.
Rakyat pun berkumpul, bermufakat mencari solusi dengan tujuan keluarga kerajaan bisa terhibur. Pada ahirnya, mereka memberanikan diri untuk tampil di depan istana dengan gerakan, tari – tarian toping. Alhasil, keluarga kerajaan pun terhibur.
Tarian Huda – Huda adalah tarian pelipur lara, tarian yang kaya nilai sosial, estetika dan budaya. Kearifan lokal yang patut dipertahankan sebagai warisan leluhur. Tarian yang dapat dijadikan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal dan melestarikan kekayaan seni budaya Simalungun kepada seluruh masyarakat Indonesia.
Selain itu, sebagai Daerah Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Kawasan Danau Toba, Tarian Huda – Huda merupakan atraksi wisata yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan. (*)
