Wastra atau kain tradisional nusantara adalah peninggalan turun temurun leluhur yang menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia. Mencintai dan menjaga wastra nusantara berarti menjaga ingatan terhadap budaya, dan peradaban nusantara. Setiap lembar wastra mempunyai nilai nilai filosofis yang agung dan luhur.

Namun kehadiran wastra tidak luput dari sosok pembuatnya atau petenunnya. Hal ini sering luput dari perhatian masyarakat maupun pemerintah. Bahwa dalam pembuatan selembar wastra atau kain tradisional, seseorang yang memang sudah ahli membuatnya, memahami asal usul wastra tersebut, sabar dan tekun.

Sejatinya setiap kain tradisional nusantara memiliki tujuan penggunaan masing-masing saat kain itu dibuat. Dan petenun wajib mengetahui arti dari wastra buatannya.

Kali ini kita akan mengambil wastra Khas Danau Toba yaitu kain tenun ulos. Saat ini motif tampilan ulos sudah banyak, beberapa diantaranya masih dengan motif tertentu yang sangat berkaitan dengan kebutuhan adat-istiadat Suku Batak.

Ulos dengan motif kekinian yang merupakan hasil kreasi petenunnya juga banyak, diminati para masyarakat. Hal ini tentu menjadi peningkatan perekonomian masyarakat lokal yang berprofesi sebagai petenun kain tradisional ulos.

Salah satu hasil tenunan ulos berupa selempang dengan motif kreasi/jmh

Menjadi petenun adalah hal yang tidak pernah terpikirkan seorang Yanci Pardede. Hal itu terjadi begitu tiba-tiba, dia ingin pulang dan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Sesampainya di kampung halamannya, dia mulai menikmati hari-harinya mendampingi ibunya dan dia juga mengelola lahan pertanian milik keluarga bersama saudaranya.

Awal mula ketertarikannya dengan dunia tenun sekitar akhir Tahun 2019. Di waktu luang, dia memperhatikan saudarinya yang sudah ahli bertenun tradisional. Perlahan-lahan ketertarikan akan tenun tradisional muncul dengan sendirinya. Tidak sampai satu tahun untuk Yanci menyerap ilmu bertenun dari mulai proses menggulung benang hingga menyelesaikan selembar kain tenun ulos.

Sekalipun Yanci melayani berbagai orderan menenun ulos. Yanci tetap berpengharapan, bahwa dunia tenun di Kabupaten Tapanuli Utara tetap lestari. Tidak hanya melestarikan wastranya atau kain tenun ulos, namun dibutuhkan juga pembinaan kepada generasi-generasi penerus khusus bertenun.

Hal ini tidak luput dari pantauan Yanci di lingkungan masyarakat petenun. Kaum ibu yang mengandalkan kehidupan perekonomiannya dari hasil bertenun, malah tidak mengajarkan anak-anaknya untuk bertenun. Bahkan aktivitas petenun cenderung diwajibkan kepada seorang perempuan.

Dengan membuat wadah yang diberi nama Ruma Tonun Sarinah, dia menerapkan tidak ada pembeda untuk boleh atau tidak menjadi petenun. Baik lelaki maupun perempuan bisa menjadi petenun. Selama bakatnya tulus dan mau belajar dengan tekun, karena pelestarian wastra khususnya kain tenun ulos adalah tanggungjawab bersama Orang Batak.

Saat ini, Ruma Tonun Sarinah telah memiliki 2 unit alat tenun manual dan berharap dalam waktu dekat akan menambah unit. Peralatan tenun manual ini akan segera dilengkapi, agar siapa saja boleh berlatih bertenun.

Ruma Tonun Sarina sebagai wadah belajar bertenun, baik untuk perempuan maupun lelaki/jmh

Kepada Tobaria Yanci mengatakan, “Impian saya akan bermunculan generasi baru pelestari tenun tradisional di Taput. Menjadikan hal ini sebagai keharusan, bukti cinta budaya sendiri. Untuk menarik minat mereka, khususnya yang masih anak-anak dan remaja. Mengkolaborasikan antara belajar bertenun dan bermain, hal ini untuk merangsang mereka bersemangat dan tidak jenuh,” ucapnya bersemangat.

Tidak semua yang belajar bertenun di Ruma Tonun Sarinah perempuan, ada beberapa diantaranya anak lelaki. Kelihaian tangan saat memasukkan helai demi helai benang hingga proses memadatkan tampak mereka kuasai. Hal ini terlihat unik, anak-anak petenun dan hal ini perlu diapresiasi agar semangat mereka belajar bertenun tetap ada sampai mereka bisa menghasilkan selembar kain tenun ulos. (*)