Indonesia memiliki beragam suku dan kesenian tradisional yang beraneka ragam. Hal ini merupakan gambaran kehidupan masyarakat dari zaman nenek moyangnya, yang harus dilestarikan agar tetap terjaga keberadaannya.

Kebudayaan merupakan bukti sejarah perkembangan suatu suku di Indonesia. Hal ini merupakan ilmu pengetahuan yang secara alami, diturunkan oleh leluhur kepada setiap generasi penerusnya. Selain bermanfaat bagi keturunannya, warisan budaya ini telah menjadi nilai sejarah untuk menaikkan nilai pariwisata dan perekonomian bila di kelola dengan baik.

Kali ini kita akan membahas tentang bela diri dari Provinsi Sumatra Utara khususnya dari Suku Batak yang disebut Mossak. Ilmu bela diri Suku Batak ini mulai pudar keberadaannya. Mossak dikenal sebagai ilmu kebatinan dan tidak sembarangan orang bisa menggunakannya. Mereka yang memiliki ilmu bela diri mossak, diyakini adalah orang-orang istimewa yang dipilih oleh leluhurnya untuk meneruskan ilmu bela diri tersebut.

Mossak diyakini memakai unsur mistis, keberadaan ilmu bela diri ini diperuntukkan untuk melindungi diri bagi masyarakat batak. Seiring waktu bela diri mossak mulai dikolaborasikan dengan kegiatan seni bela diri lainnya.

Salah satu jurus dari mossak/ist

Konon mossak ini dirangkai dengan langkah-langkah dan jurus-jurus untuk menghidupkan dan mengaktifkan 9999 urat manusia, yaitu :

1. Salah satu seni bela diri batak untuk penyatuan darah manusia dengan Tuhan.

2. Salah satu tenaga dalam yang berguna untuk membela diri dan untuk kesehatan.

3. Salah satu seni bela diri batak yang biasa digunakan sebagai hiburan dan atraksi pada pesta besar di tanah batak.

4. Salah satu seni bela diri batak yang biasa digunakan untuk menyambut para raja dan tamu kenegaraan.

Dan nama jenis mossak yang paling terkenal adalah Mossak Babiat. Sabuk atau peringkat dalam Mossak Babiat ada sembilan peringkat atau sabuk, yaitu :

1. Sabuk Tapak Pagar

Dalam sabuk atau peringkat ini dipelajari dasar seni bela diri batak, mana yang dapat dilakukan dan mana yang tidak dapat dilakukan dengan langkah menjaga muka, belakang, kiri dan kanan.

2. Sabuk Desa Nawalu

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah delapan penjuru mata angin, dan langkah pane nabolon yang berada dalam satu desa selama tiga bulan sesuai dengan kitab Pane Nabolon.

3. Sabuk Bintang Tuju

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah dan jurus dengan menggunakan panca indra.

4. Sabuk Tapak Seleman

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah dan jurus kekuatan dari tiga benua yaitu benua atas, benua tengah dan benua bawah.

5. Sabuk Bintang Lima

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah dan jurus ilmu lima jari dan lima darah manusia yang dapat disatukan dengan darah Tuhan.

6. Sabuk Siopat Suhi

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah dan jurus mengenai kekuatan yang ada pada urat dan tubuh manusia.

7. Sabuk Bintang Tolu

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah dan jurus serta kekuatan bumi.

8. Sabuk Bolat

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah dan jurus serta menggunakan udara kesaktian dan kesucian.

9. Sabuk Ingsun

Dalam peringkat ini mossak batak mempelajari langkah dan jurus inti dan kunci rahasia dari seluruh sabuk yang delapan. Jadi sabuk yang kesembilan ini adalah induk dari seluruh mossak batak.

Kolaborasi bela diri mossak mulai ditampilkan bersama olahraga pencak silat/ist

Dalam mossak batak, setiap satu peringkat atau sabuk mempunyai sembilan jurus. Jadi keseluruhan mossak Batak memiliki 81 jurus ditambah 19 jurus aksara batak, maka dengan demikian jurus  mossak batak berjumlah 100 jurus.

Konon Raja Sisingamangaraja XII, sangat ahli dalam ilmu silat yang satu ini, ilmu ini juga yang membuat dia sangat susah untuk dikalahkan. Tidak rahasia umum, jika pada masa itu Raja Sisingamangaraja XII memiliki pasukan elite yg hanya berjumlah sedikit saja. Kemampuan utama pasukan kecil ini ialah kemampuan mossaknya. Namun di era kemerdekaan tak terdengar lagi siapa yg menjadi pewaris dari ilmu mossak batak ini.

Ketika Raja Sisingamangaraja XII dinyatakan tewas, kemudian pasukan elite tersebut bubar dan dinyatakan berpencar ke beberapa wilayah Tanah Batak. Kemudian diketahui bahwa setiap daerah di Tanah Batak memiliki ciri khas mossak yang berbeda-beda.

Saat ini mossak hampir sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Kisah tentang keberanian para pendekar mossak yang terkenal tegas, pemberani, dan keras itu seolah telah habis ditelan zaman. Kesadaran kita sebagai generasi muda khususnya Suku Batak, dibutuhkan untuk melestarikan bela diri warisan leluhur kita.

Demikian informasi tentang mossak, yang dilansir dari berbagai sumber. Semoga dihari mendatang akan muncul pendekar-pendekar mossak tunas baru, yang akan memperdengarkan kembali gaung tentang mossak batak di kancah bela diri nasional. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan warisan leluhur kita. *Jmh