Sarkofagus merupakan peti mati yang terbuat dari batu. Di Provinsi Sumatra Utara kita bisa menemukan beberapa tempat yang menyimpan jenazah di dalam peti mati yang terbuat dari batu. Keunikan dari sarkofagus ini terlihat dari ukiran-ukiran pada peti batu tersebut.
Di Desa Tomok Kecamatan Simanindo-Kabupaten Samosir terdapat Objek Wisata Kuburan Tua Raja Sidabutar, terdapat beberapa sarkofagus yang diperkirakan sudah berusia hampir 400 tahun. Tempat ini cukup terawat dan terjaga kebersihannya. Keunikan lain di tempat ini, kita merasa seolah berada dihutan. Suara jangkrik terdengar sangat lantang, bersahut-sahutan di sekeliling kompleks makam yang ditumbuhi banyak pepohonan.
Kuburan tua ini tampak terawat, dan di antara kuburan tua ini juga terdapat beberapa kuburan kekinian yang merupakan keluarga inti dari Raja Sidabutar. Terlihat perbedaan mencolok dari bentuk kuburan tua dan bentuk kuburan baru. Salah satunya adalah keberadaan ornamen Salib di kuburan baru sebagai pertanda mereka sudah berada pada masa Kekristenan. Sementara kuburan-kuburan tua lainnya tampak polos dan beberapa diantaranya, ada yang berhiaskan ornamen berupa bebatuan yang diukir sedemikian rupa.

Menurut penjaga makam yang tidak ingin disebutkan namanya, masing-masing dari bentuk ukiran di makam tua tersebut memiliki kisah sendiri. Dulu para Raja dan keluarganya masih menganut Aliran Kepercayaan Parmalim. Yang ditandai dengan keberadaan simbol kain berupa bendera panjang berwarna putih, merah dan hitam yang sengaja diletakkan di atas kuburan batu tersebut.
Sebagian dari makam batu tersebut ada yang sudah rusak akibat tertimpa pepohonan tua yang dulu ada di dalam kompleks kuburan tua. Untuk mencegah kerusakan yang lebih fatal, maka pihak pengelola makan tua menambal kerusakan pada peti batu dengan menambahkan semen untuk tetap menjaga keaslian bentuk peti batu tersebut.
Sebelum memasuki komplek makam, pengunjung harus memakai kain ulos yang telah disediakan di pintu masuk. Kain ini cukup diselempangkan di bahu saja. Selain itu, pengunjung juga harus menjaga sopan santun dan menerapkan budaya antri. Tiket masuk ke objek wisata ini seikhlasnya saja, dan di lokasi sudah ada pemandu wisata lokal yang stand by.

Namun setelah masa pandemi Covid-19, makam tua ini tampak sepi dari pengunjung. Yang dulunya selalu ramai dihadiri wisatawan, baik Wisatawan Nusantara (Wisnus) maupun Wisatawan Mancanegara (Wisman). Bahkan menurut para pedagang di sekitar objek wisata tersebut dalam seminggu bisa tidak ada tamu sama sekali yang berkunjung.
Walaupun pengunjung hanya hitungan jari dalam setahun terakhir ini, kondisi makam tetap terawat bersih. Penjaga makam yang bergantian tugas setiap seminggu sekali, tetap rutin merawat dan membersihkan makam tua tersebut. *Jmh
