Direktorat Sumber Daya Manusia Pariwisata dan Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerjasama dengan Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia (PGPI) dan Asosiasi Pilot Tandem dan Instruktur Paralayang Indonesia (APTIPI), mengadakan Pelatihan Berbasis Kompetensi Pemandu Wisata Paralayang.

Pelatihan tersebut diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Provinsi Sumatra Utara, bertempat di Labersa Toba Hotel & Convention Center, Kabupten Toba pada 25-28 Februari 2021.

Dalam pelatihan ini, hadir narasumber dari PGPI dan APTIPI. Yang akan memberikan berbagai materi seputar kepemanduan meliputi administrasi pendaftaran, pengenalan wisatawan di hari pertama

Pengenalan peralatan paralayang dan berbagai hal pendukungnya berikut praktek lapangan di hari kedua dan ketiga, dan ujian pelatihan berbasis kompetensi dihari keempat.

Pelatihan Berbasis Kompetensi Pemandu Wisata Paralayang/jmh

Hadir John Piter Silalahi selaku Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Toba, memberi sambutan sekaligus membuka acara tersebut.

Dalam kata sambutannya Jon Piter Silalahi mengatakan, “Seluruh peserta harus bersungguh-sungguh mengikuti pelatihan ini. Peserta harus bisa melihat potensi usaha dari keahlian sebagai pilot paralayang. Banyak tempat indah yang harus kita kembangkan yang layak menjadi tempat wisata paralang.”

Gendon Subandono sebagai salah satu motor dalam pengembangan paralayang di Indonesia. Menerangkan sejarah perkembangan paralayang sejak tahun1989.

Dia menyebutkan, sekitar tahun 1992 aktivitas penerbangan dengan paralayang masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini sudah ada 3.000 penerbang paralayang yang telah mengantongi lisensi sebagai penerbang paralayang.

Pada kesempatan ini, Gendon Subandono juga berbagi tentang sejarah terbentuknya Persatuan Gantole dan Paralayang Indonesia (PGPI). Tahun 1996 paralayang resmi menjadi olahraga dirgantara yang tergabung di Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Dan tahun 1997 hingga tahun 1999 merupakan tahun pembinaan prestasi paralayang.

Dia mengisahkan bagaimana awal mula menggeluti terjun gunung pada tahun 1987 yang akhirnya dikenal dengan sebutan paralayang bagi Wisatawan Nusantara (Wisnus) dan paraglading bagi Wisatawan Mancanegara (Wisman).

Belajar tentang terjun gunung secara otodidak, dari seorang turis berkewarganegaraan Perancis yang hobi berparalayang. Dia mengatakan, “Saat itu belum ada internet, saya mempelajari semuanya dari buku-buku berbahasa Perancis. Dan pada tahun 1989, saya dipinjamkan parasut milik Lodi untuk pertama kalinya. Kemudian kami menamainya olahraga ini sebagai terjun gunung, yang kemudian berubah menjadi sebutan paralayang pada 22 Mei 1993 di Gunung Haruman Garut.”

Instruktur Paralayang Gendon Subandono menjelaskan cara memakai harness kepada salah satu peserta pemandu wisata paralayang.

Sejak tahun 1994 hingga tahun 2000 merupakan awal pengenalan wisata dirgantara di Indonesia baik terbang single maupun tandem. Tandem paralayang profesional dimulai sejak tahun1995. Saat ini penerbangan paralayang secara tandem, sangat diminati oleh wisatawan dirgantara.

Ketua Komite Gantole dan Paralayang Indonesia Joko Bisowanto mengatakan, “Saat ini Indonesia memiliki 20 top pilot dengan rangking di antara urutan rangking 1 hingga rangking 30 dari 500 top pilot paralayang internasional. Indonesia juga merupakan salah satu penyelenggara kejuaraan dunia dengan rating tertinggi secara internasional. Karena 20 top pilot tersebut memang berdomisili di Indonesia.

Namun jika penyelenggaraan dilaksanakan di luar negeri, ke 20 top pilot paralayang tersebut belum tentu bisa menghadiri. Semua dikarenakan keterbatasan biaya perjalanan, karena biaya mengikuti perlombaan di luar negeri jelas akan memakan biaya dalam jumlah yang besar.”

Joko menyebutkan jika paralayang saat ini bukan sekedar olahraga atau hobbi lagi. Beberapa prestasi dari olahraga paralayang ini telah menorehkan sukses yang membanggakan dengan diikutsertakan dalam kejuaraan Pekan Raya Nasional (PON), pada tahun 2004 mengikuti PON Paralayang di Sumatra Selatan, tahun 2008 mengikuti PON di Kalimantan Timur, tahun 2012 mengikuti PON di Riau dan tahun 2016 mengikuti PON di Jawa Barat.

Salah satu praktek paralayang dengan tehnik tandem/jmh

Melalui pelatihan ini, diharapkan ke 30 orang peserta akan mampu menjadi pemandu wisata yang handal. Khususnya dibidang kepemanduan paralayang, menguasai materi-materi dan praktek. Dengan target ke 30 peserta bisa lolos dan dapat mengikuti sertifikasi kepemanduan kedepannya.

Pelatihan ini dilaksanakan sesuai protokol kesehatan dan sesuai dengan panduan (CHSC) paralayang. CHSE adalah penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan). Dan setiap peserta beserta panitia kegiatan pelatihan tersebut telah diperiksa kesehatannya melalui cek rapid antigen.

Dalam hal ini, masyarakat di Kawasan Danau Toba harus bersiap khususnya dibidang pariwisata dan kepemanduan wisata minat khusus. Karena kehadiran Wisman dan Wisnus memiliki beragam tujuan datang ke Danau Toba.

Dan kita sebagai masyarakat di Kawasan Danau Toba harus bersiap untuk membuka diri, mengenali peluang-peluang pariwisata sebagai potensi usaha di sekitar kita. *Jmh