Sian nadao hu bege do sada ende

Tarsongon na mangandungandung inang

Mangandungi au manjalangi

Tangis tarlungun lungun au da inang

Di jou au mulak inang

Tu rura si lindung

Asa gira huida inang

Na lambok Malilu

Demikian sepenggal lirik lagu karya Nahum Situmorang yang melegenda, mengartikan kerinduan seorang Putra Batak di perantauan yang rindu akan ibunda dan kampung halamannya. Lagu ini merupakan satu lagu di antara ratusan lagu karya Nahum Situmorang.

Tak banyak catatan dan dokumentasi tentang lagu-lagu karya Nahum Situmorang. Jejak sejarah dan kiprah pria kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, 14 Februari 1908 yang bertepatan dengan Hari Kasih Sayang sedunia itu juga sangat minim. Konon kabarnya, lagu ciptaan Nahum berjumlah lebih dari 140 lagu.

Lagu-lagu ciptaan Nahum Situmorang (1908-1969) begitu melegenda bagi masyarakat Batak. Karyanya seperti Ketabo-Ketabo, Lissoi, Pulo Samosir, Situmorang Na Bonggal, Tumba Goreng, Sega Nama Ho, dan Tao Toba, begitu akrab di telinga.

Lagu-lagunya lebih populer ketimbang namanya. Sudah lebih lima dekade komponis legendaris itu meninggalkan bumi ini, namun karyanya masih disenandungkan, tidak cuma oleh masyarakat Batak, tetapi juga banyak orang.

Ia kerap mencipta lagu secara spontan ketika sedang menyanyi di kedai tuak. Kertas apapun disambarnya untuk menulis syair yang tiba-tiba ia temukan. Nahum hidup melajang hingga akhir hayatnya. Tinggal tujuh saudara kandungnya yang menyimpan sedikit informasi tentang Nahum.

Dalam sebuah buku yang ditulis Yayasan Pewaris Nahum Situmorang menyebutkan, Nahum pernah masuk dapur rekaman di Lokananta, Solo. Terkait hal itu, Kepala Produksi Lokananta Bemby Ananto mengakui ada sejumlah karya Nahum Situmorang tersimpan di Museum Lokananta. Namun, karya itu bukan hasil rekaman dari ruang studio Lokananta.

Nahum Situmorang (Paling Tengah) bersama grup Nahum’s Band/ist

“Nahum rekaman di Medan, berarti di Radio Republik Indonesia (RRI) Medan waktu itu, sekitar tahun 1958 hingga 1959. Setelah rekaman selesai, pihak RRI Medan mengirim materi dalam bentuk pita reel ke RRI Jakarta untuk dilaporkan, lalu dikirim ke Lokananta untuk dicetak dalam bentuk piringan hitam,” tutur Bemby kepada Beritasatu.com Solo.

Dia menjelaskan, ada dua album terpisah untuk lagu-lagu karya Nahum yang diproduksi Lokananta menjadi piringan hitam. Album pertama, produksi tahun 1958 berisi sepuluh lagu. Album itu bertajuk Rangkaian Lagu2 Daerah Sumatra, Nahum’s Band (dbp Nahum Situmorang) dengan deskripsi: Daerah Sumatra; Tapanuli (modern). Sepuluh lagu di album ini adalah: Ala Dao, Sidideng, Dengke Julung-julung, Dijau Au Mulak, Andor Gatillo, Ndada Sitallihon, Dangol Nai, Mate Marsak, Sega Nama Ho, dan Habang Lote Dolok.

Album kedua, produksi 1959 bertajuk serupa, dengan deskripsi lagu daerah Tapanuli (modern). Ada delapan lagu di album ini yakni, Modom Ma Damang Unsok, Denggan Ni Lagumi, Malala Rohangki/Ale Inang Pangintubu, Tumba Do, Dorma Sijunde, Sihabiaran, Tabo Hape Na Niura, Pulo Samosir, dan Ee Ndang Maila Ho.

Menurut Bemby, beberapa lagu Nahum’s Band dari dua album itu juga ada di album piringan hitam kumpulan lagu campuran Minang/Tapanuli dan Nyanyian Sumatra. Semua piringan hitam itu diproduksi untuk keperluan siaran RRI dan dipancarkan ke seluruh Nusantara.

Dikatakan, ketika itu, album piringan hitam tersebut tidak dijual ke publik. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pendengar suka ketika mendengar lagu-lagu itu, RRI berinisiatif untuk menjualnya ke publik melalui Koperasi RRI.

Berdasarkan catatan, Lokananta yang berdiri pada 29 Oktober 1956 dengan nama resmi Pabrik Piringan Hitam Lokananta itu memang berfungsi sebagai studio rekaman pendukung Radio Republik Indonesia (RRI). Ketika itu, Lokananta memfokuskan diri pada usaha rekaman untuk lagu dan musik daerah.

Beberapa kelompok seniman daerah yang pernah diusung pada awal berdirinya Lokananta seperti Orkes Gumarang (Minang), Orkes Pandana, Orkes Hawaian Rame Dendang dan Trio Marihol (Maluku), Orkes Tropikana (Lagu Melayu), Idris Sardi dan Soedharnoto (klasik), Gamelan Setia Manah dan Klenengan Ganda Mekar (Sunda), Orkes Dasa Rama (Sulawesi), dan Nahum’s Band dari Sumatera.

Lokananta juga merilis piringan hitam dari lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga Stanza ciptaan WR Supratman, serta lagu-lagu wajib lainnya.

Seperti dikutip Suara Pembaruan (15 Februari 2008), sejak di bangku Sekolah Dasar, Nahum suka menyanyi. Pendidikan terakhir anak ke-5 dari delapan bersaudara putra Killian Situmorang ini adalah Sekolah Guru Kweekschool di Lembang, Bandung (lulus 1928).

Pihak keluarga yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pewaris Komponis Nahum Situmorang menyebutkan, Nahum pernah ikut Barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota Kongres Pemuda pada 1928. Dia juga sempat mengikuti lomba menciptakan lagu kebangsaan, ketika itu WR Supratman juara pertama, Nahum kedua. Namun, pihak keluarga belum bisa memberikan bukti atas klaim tersebut.

Pada periode 1929-1932, Nahum bekerja di Sekolah Partikelir Bataksche Studiefonds di Sibolga. Dia lalu pindah ke Tarutung dan ikut abangnya yang juga guru, Sophar Situmorang. Mereka mendirikan HIS-Partikelir Instituut Vor Wester Lager Onderwijs hingga kedatangan Jepang pada 1942. Saat itu Nahum mulai banyak mencipta lagu.

Bersama rombongannya yang dipimpin Raja Buntal Sinambela, putra Pahlawan Sisingamangaraja XII, Nahum menjuarai lomba Sumatera Keroncong Concourse di Medan (1936). Kemudian, pada 1942-1945, dia membuka restoran dan menjadi pemusik Jepang Sendenhan Hondohan.

Lalu, Nahum beralih profesi menjadi pedagang emas. Saat itulah dia mencipta lagu-lagu perjuangan. Empat tahun berikutnya, Nahum mengadu nasib ke Medan. Ia menjadi broker mobil sambil meneruskan karier sebagai penyanyi dan pencipta lagu.

Selama 30 tahun, dia sudah mencipta sekitar 140 lagu. Periode 1950-1960 adalah masa produktifnya mencipta lagu yang dikenal luas masyarakat seperti Lissoi, Alusi Au, dan Ketabo. Beberapa lagu Nahum lainnya seperti Anakkonki do Hasangapon di Ahu, Alani Ho, Sitogol, dan Tumba Goreng.

Nahum juga menciptakan lagu Situmorang Nabonggal yang menjadi “Lagu Kebangsaan” marga Situmorang. Hingga kini, lagu itu selalu dinyanyikan di acara adat dan pertemuan marga Situmorang ataupun di pesta pernikahan.

Akhir 1966, Nahum jatuh sakit. Dia dirawat di RSUP Medan selama hampir tiga tahun. Nahum menghembuskan nafas terakhir pada 20 Oktober 1969. Dua bulan sebelum meninggal dunia, tepatnya saat peringatan HUT RI pada 17 Agustus 1969, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri memberi Piagam Anugerah Seni untuk Nahum.

“Ini sebagai penghargaan atas jasanya pada negara sebagai pencipta lagu-lagu rakyat daerah Batak yang paling berhasil,” kata Mashuri ketika itu. Kiprah Nahum begitu besar bagi seni dan budaya masyarakat Batak. Makanya tak heran ia memperoleh Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Agustus 2006.

Makam Nahum Situmorang banyak dikunjungi para peziarah/ist

Sekalipun Nahum Situmorang telah tiada, namun dia akan dikenang sepanjang masa melalui karya-karya lagunya yang diminati berbagai kalangan usia hingga saat ini. Terkhusus bagi Orang Batak, karyanya tentu bisa menginspirasi para musisi muda. Bagaimana meracik kata-kata menjadi cerita melalui lalu yang bisa diterima oleh siapa saja dan sepanjang masa.

Dan para sobat yang berkunjung ke Danau Toba, boleh mendengarkan senandung ala Nahum Situmorang selama di perjalanan. Maka sempurnalah pelesiran ke Danau Tobanya, horas. *Jmh