“Begema-begema giringgiringi, dungo ho dungo ho lao ma ho tu garejai,” sepenggal lirik lagu yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia, “Dengarlah-dengarlah suara lonceng, bangunlah dan pergilah ke gereja.”

Lonceng gereja merupakan kelengkapan yang sangat penting dari berdirinya suatu gereja. Karena lonceng digunakan sebagai media pemanggil jemaat, dengan kode-kode tertentu, maka jemaat di gereja tersebut akan memahami jenis-jenis dari dentang lonceng tersebut. Contohnya membedakan jam acara-acara ibadah gereja, pertanda pagi dan sore, adanya kemalangan dan lain sebagainya.

Salah satu desa yang mayoritas warganya bekerja sebagai pandai besi ada di Desa Sitampurung Kecamatan Siborongborong-Kabupaten Tapanuli Utara. Terlihat di kiri-kanan pekarangan rumah penduduk, deretan lonceng-lonceng gereja dalam berbagai ukuran dan warna. Jarak tempuh dari Bandara Sisingamangaraja XII-Silangit ke Desa Sitampurung, sekitar 30 menit. Atau dari Kota Balige jarak tempuhnya sekitar 60 menit dengan kendaraan bermotor.

Op.Desi Lubis dulunya adalah seorang pandai besi, namun diusia tua usahanya dilanjutkan oleh salah satu anaknya. Dia adalah generasi Keluarga Lubis yang ke 4, sudah menetap di Desa Sitampurung dan leluhurnya adalah salah satu pandai besi yang ahli dalam pembuatan lonceng. Dia mengatakan tidak semua pandai besi di Desa Sitampurung bisa membuat lonceng.

Marsudi Lubis (71 Tahun) salah satu pandai besi yang paham dalam pembuatan lonceng gereja/jmh

MenurutOp.Desi Lubis, 71 tahun, pandai besi adalah usaha turun temurun, bermula sejak zaman penjajahan Jepang dulu. Dahulu pada masa penjajahan Jepang, tidak seberapa jauh dari Desa Sitampurung, terdapat pabrik minuman keras merk Samsu milik Jepang atau lebih dikenal.

Masyarakat sering pergi ke lokasi pabrik untuk mencari pekerjaan, dari sanalah bermula masyarakat menemukan besi yang kemudian menjadi bahan baku besi tempahan. Dulu Desa Sitampurung tidak memiliki lahan pertanian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduknya. Dan semenjak adanya bahan baku besi bekas dari lokasi pabrik tersebut, mulailah masyarakat bekerja sampingan hingga menjadi mata pencaharian utama yang hingga kini tetap produksi.

Mengingat proses pembuatan lonceng, bisa mencapai 1 minggu dan dikerjakan oleh para pekerja yang sudah ahli menempah lonceng. Menempah hanya dilakukan sekali dalam seminggu, setiap Hari Selasa, baik menempah lonceng maupun alat-alat besi lainnya. Untuk penggajian tenaga khusus penempah lonceng dibayar Rp. 200.000/hari, untuk penempah alat-alat besi biasa Rp. 100.000/hari.

Khusus menempah lonceng, dibutuhkan tenaga 4 hingga 5 orang pandai besi. Para pekerja ini menggunakan peralatan keamanan seadanya seperti helm, sarung tangan dan  sepatu boot. Martil besar  yang digunakan memiliki berat 4-5 kg, dan proses pengerjaan dimulai dari membakar pipa besi dalam bara api, dan tahap demi tahap membantuk pola lonceng berukuran besar, suara besi saling beradu, berirama, membentuk segi 4 ke segi 8, hingga salah satu ujung pipa menutup berbentuk bulat dengan menyisakan lobang dengan diameter 10 cm. Lobang sebagai tempat penyambungan gantungan bandul. Proses penyelesaian pembuatan lonceng ini, yaitu menghaluskan  lonceng dengan garenda dan  pemasangan bandul serta memasangkan gantungan lonceng dan yang terakhir adalah pengecatan.

Pembuatan lonceng gereja oleh beberapa pandai besi/jmh

Harga lonceng gereja bervariasi. Tergantung design dan berat lonceng. Semakin berat sebuat lonceng, maka suara dentang yang dihasilkannya semakin nyaring. Untuk harga 1 unit lonceng berukuran besar ini dikenai harga sekitar Rp.8.000.000 hingga Rp.15.000.000. Lonceng-lonceng ini sudah dikirim ke Jayapura, ke Monokwari, ke Kalimantan, Jogyakarta, ke Timor-timur  juga sudah pernah.

Saat ini ada sekitar 40 orang pandai besi yang aktif dan hanya beberapa saja yang ahli membuat lonceng. Sekarang bahan baku tidaklah sulit dicari, sudah ada dan dibeli dari Medan, hanya pemesannya yang jarang. Dengan omset yang tidak tentu, karena pemesan lonceng belum tentu ada sekali sebulan atau bahkan sekali setahun belum tentu ada.

Pekerjaan para pandai besi ini terbantu dengan adanya bantuan pemerintah yaitu spring hammer, yang telah membantu meringankan kinerja pandai besi saat membuat lempengan dari batangan besi. Para pandai besi ini, berharap kepada Pemkab Tapanuli Utara agar kiranya, membantu untuk memasarkan produk buatan pandai besi Desa Sitampurung.

Untuk tetap melanjutkan usaha pandai besi, selain menempah lonceng gereja, para pandai besi Desa Sitampurung juga memproduksi alat-alat pertanian dan perkebunan. Contohnya, sabit, babat, cangkul, belati, parang , egrek, dodos dan lain sebagainya.

Besar harapan Pandai Besi Desa Sitampurung, kelak pandai besi akan tetap dikenal sebagai produksi lonceng gereja ke seluruh penjuru kota di Indonesia. Dan siapapun yang berniat memesan lonceng, tidak lupa memesan kepada Pandai Besi dari Desa Sitampurung. Dijamin kualitas baik dengan harga terjangkau. Jika para sobat berkunjung ke Kabupaten Tapanuli Utara boleh singgah ke tempat ini. Siapa tahu para sobat ingin membeli lonceng sekaligus ingin melihat cara pembuatan lonceng. *jmh