Khitanan, merupakan kebiasaan rutin yang dilakukan oleh remaja pria untuk menjaga kebersihan kelaminnya. Jika dulu khitan sangat ditakuti karena penggunaan sembilu atau sejenis pisau kecil yang sangat tajam untuk membersihkan kulit, kali ini ada solusi penggunaan laser oleh para dokter. Dari segi kesehatan khitan bermanfaat untuk menghindarkan dari berbagai penyakit kelamin, yang berbahaya serta menjaga kebersihan alat kelamin.

Jika selama ini kita mengetahui khitan wajib dan hanya dilakukan umat beragama Muslim. Ternyata tidak, bagi Suku Karo yang non Muslim juga telah berlaku kebiasaan khitan secara turun-temurun yang  disebut kacip-kacipi. Dan uniknya, khitan pada umumnya dilakukan dengan bantuan orang lain, sedangkan kacip-kacipi dilakukan sendiri oleh remaja pria yang ingin dirinya di khitan.

Nah, ada perbedaan jenis khitan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan Suku Karo. Bagi Suku Karo, khitan dilakukan sendiri dengan sadar dan kemauan sendiri oleh seseorang yang ingin mengkhitankan dirinya. Kegiatan khitan ini dilakukan oleh pelaku khitan sendiri dengan peralatan yang sangat sederhana. Peralatan tersebut dinamakan kacip-kacipi yang terbuat dari tulang ijuk enau.

Alat khitan tradisional/ist

Kata kacip-kacipi dalam Bahasa Daerah Karo merupakan kata ulang yang memiliki arti jepit atau sebagai penjepit. Setiap anak berjenis kelamin laki-laki yang sudah berusia antara 8 sampai 10 tahun, biasanya dengan kesadarannya sendiri akan meminta dirinya untuk di kacip-kacipi.

Proses khitan yang disebut kacip-kacipi ini menggunakan tulang ijuk enau sebagai alat penjepit bagian kulit ujung kemaluan anak lelaki yang akan di khitan. Dalam 4-5 hari kulit kemaluan yang di kacip-kacipi akan putus, dan setelah 2 hingga 3 hari, luka bekas kulit yang lepas akan segera kering dan sembuh.

Kacip-kacipi ini biasanya dilakukan di dalam sungai. Dinginnya air sungai dianggap sebagai bius alami, yang bisa mengurangi rasa sakit dan mengurangi pendarahan.

Tata cara melakukan kacip-kacipi adalah seorang anak laki-laki biasanya menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Pada pagi hari akan mencari bambu dan tulang ijuk enau yang kemudian dipotong sepanjang 5 cm, dan kemudian di belah dua. Teknik belah dua inilah yang disebut dengan kacap-kacapi, kemudian penjepit tersebut dijepitkan kepada kulit bagian kelamin yang akan dibersihkan dan bagian ujung penjepitnya kemudian di ikat dengan benang.

Itu dia, salah satu tradisi khitan yang ternyata sudah menjadi kebiasaan sehat bagi para remaja pria Suku Karo. Dan di zaman modern ini, teknik khitan kacip-kacipi ini sudah jarang dilakukan oleh remaja pria Suku Karo, karena kedokteran telah memberikan solusi khitan yang lebih sehat dan lebih simple. (*)